Rabu 17 Jan 2024 09:57 WIB

NATO Terus Pantau Perkembangan di Asia

Keamanan tidak lagi bersifat regional melainkan global.

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg.
Foto: ANTARA/Anadolu
Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg.

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -- Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg, menegaskan pada Selasa (16/1/2024), bahwa aliansi tersebut harus mengatasi perkembangan di Asia. "NATO adalah aliansi transatlantik, Eropa dan Amerika Utara. Dan kami akan tetap menjadi aliansi regional. Namun, kawasan transatlantik menghadapi ancaman global. Keamanan tidak lagi bersifat regional, keamanan bersifat global," katanya dalam panel diskusi di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.

Menurut dia, aliansi tersebut tidak menganggap Cina sebagai musuh, tetapi investasi besar Cina pada kemampuan dan perilaku militer modern. Khususnya di Laut Cina Selatan, merupakan salah satu hal yang mengkhawatirkan NATO.

Baca Juga

"Dan kami juga harus memahami bahwa ini bukan berarti NATO bergerak ke Asia, tetapi adalah fakta bahwa Cina semakin dekat ke kita," kata Stoltenberg. "NATO harus menanggapi apa yang terjadi di Asia, bukan karena jalur keamanan, tetapi karena apa yang terjadi di sana bukan hanya untuk kita, dan sebaliknya," katanya.

Mengenai situasi di Ukraina, di mana Rusia mulai melancarkan "operasi militer khusus" hampir dua tahun lalu, dia mengatakan bahwa masih ada ruang untuk optimisme karena sekutu mengambil langkah nyata untuk terus membangun kemampuan militer Kiev. "Pada tahap tertentu, Rusia akan memahami bahwa mereka membayar harga yang terlalu tinggi serta mau berunding dan menyetujui perdamaian yang adil, tetapi kita harus mendukung Ukraina," katanya.

Dia berargumen, kemenangan Ukraina, yang bisa diraih dengan dukungan Barat, adalah satu-satunya cara agar Rusia bisa duduk di meja perundingan. "Tidak ada indikasi bahwa Putin berencana melakukan perdamaian saat ini, namun dia akan melakukannya ketika dia menyadari bahwa dia telah melakukannya dan kami tidak akan menyerah bahwa kami memiliki kekuatan militer untuk mendukung Ukraina," kata sekjen aliansi militer tersebut.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement