Rabu 17 Jan 2024 20:45 WIB

Sepenggal Kisah Persahabatan Buya Syakur dan Almarhum Gus Dur

Buya Syakur ternyata memiliki hubungan erat juga dengan Quraish Shihab.

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
KH Buya Syakur Yasin saat mengisi ceramah moderasi agama di Mabes Polri, beberapa waktu lalu.
Foto: Tangkapan layar
KH Buya Syakur Yasin saat mengisi ceramah moderasi agama di Mabes Polri, beberapa waktu lalu.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Pemimpin Pondok Pesantren Candangpinggan, Indramayu, Kh Abdul Syakur Yasin tutup usia, Rabu (17/1/2024). Abdul Syakur atau yang akrab disapa Buya Syakur ini ternyata memiliki hubungan istimewah dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Bukan hanya Gus Dur, Buya Syakur ternyata memiliki hubungan erat juga dengan Quraish Shihab dan Nur Cholis Majid. Semasa hidup meraka, pertemuan selalu digelar setiap satu bulan sekali di kediaman Alwi Shihab.

Baca Juga

Persahabat mereka terjalin erat sejak kepulangan mereka ke tanah air. Bila Gus Dur, Quraish Shihab, dan Nur Cholis Majid hidup tinggal di kota, berbeda dengan Buya Syakur yang memilih tinggal di kampung, dan menyebarkan syiar Islam di kampung halamannya di Indramayu Jawa Barat. 

Pria kelahiran Kertasmaya, Indramayu pada 2 Februari 1948 itu telah mendirikan pondok pesantren Cadangpinggan. Buya Syakur juga selalu mengisi kajian-kajian di rumahnya, di kampung-kampung, hingga di radio-radio.

Maski sibuk berdakwa, Buya Syakur selalu menyempatkan diri berkunjung ke Jakarta untuk bertemu sahabat-sahabatnya. Pertemuan itu, tentu saja kerap diisi dengan pembahasan-pembasan mulai dari agama, budaya, sains, sosial, maupun ekonomi.

Yang menarik, ujar Buya Syakur dikutip dari kanal Youtube pribadainya, dalam setiap pertemuan itu ia kerap berselisih pendapat dengan Gus Dur. Dalam setiap pembahasan atau diskusi apapun, pemikiran dan gagasananya kerap berbeda pandangan dengan mantan Presiden RI ke empat itu. Namun demikian, perbedaan pandangan itu tidak pernah bisa menghentikan eratnya persahabatan mereka. 

“Kita sering bardebat, memang dalam perdebatan-perdebatan itu, diskusi maksud saya, diskusi ilmiah tentang bidaya, agama, sosial, itu selalu di rumah Alwi Shihab, dan itu ekslusif, tertutup,” kata Buya Syakur.

“Meski saya dan Gus Dur itu bersebrangan, tapi itukan pemikiran, di luar itu ya bergandengan saja,” tambah Buya Syakur.

Salah satu contohnya perbedaan pandangan dengan Gus Dur adalah ketika memperdebatkan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Di mana sebagian besar menganggap peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw adalah sebuah mukjizat, sedangkan dalam sudut pandangnya bukan sebagai mukjizat. 

Menurut Buya Syakur, mukjizat itu seperti ketika Nabi Isa as yang dapat berbicara padahal masih bayi, di mana peristiwa tersebut pun disaksikan oleh masyarakat saat itu, kemudian mukjizat tongkat Nabi Musa yang dapat membelah lautan, di mana saat itu pun banyak saksinya.

Sehingga peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad, menurutnya hanyalah perjalanan Rohani bukan jasadi. Karena ayat Alquran tentang peristiwa itu pun tidak bersambung, peristiwa Isra Nabi terdapat khusus di dalam surat Al Isro, sedangkan peristiwa Mi’raj terdapat pada surat lainnya. Sebagaimana hal ini pun diyakini juga oleh kaum Khawarij. Maka tidak heran, lanjut Buya Syakur ketika dirinya pun dituduh pengikut khawarij.

“Tapi saya orang NU juga kok,” tegas Buya Syakur seraya tersenyum dengan anggapan orang-orang terhadap pemikirannya, yang oleh Gus Dur sendiri disebut intelektual supra rasional.

Karena pemikirannya ini pun, namanya dicoret sendiri oleh Gus Dur saat dimasukkan ke jajaran pengurus PBNU oleh KH Maruf Amin, yang saat itu menjabat sebagai Dewan formatur PBNU,

“Maruf amin cerita kepada saya, sambil tertawa, punten saya mencatut namamu (ketika Gus Dur terpilih menjadi Ketua PBNU) dimasukan ke dalam pengurus hubungan luar Negeri. Ketika dibaca  Gus Dur dengan kaca mata tebalnya, Abdul Syakur Yasin siapa? Ya temen ente, kata Ma’ruf Amin. Langsung ambil spidol ini 'muktazila'. Jadi tidak cocok dengan pengurus NU. Ini saya ceritakan apa adanya,”  ujar buya Syakur

“Kata gus dur, ‘pak maruf, ini pak syakur orang supra rasional, otak saya tidak sampai kalau ngikutin kyai Syakur. Ini bisa kacau NU,” tambah Buya Syakur.

“Karena memang dalam setiap diskusi di rumah pak Alwie Shihab itu, sering kali kita bersebrangan, tapi itu tidak menghalangi persahabatan kita, orang baik kita baiki lagi, dan beliau sangat baik sekali sangat humanis sekali,” tambah buya Syakur.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement