Rabu 29 Nov 2023 15:45 WIB

Juru Bicara Unicef: Situasi di Gaza Lebih Buruk dari yang Ia Bayangkan 

Israel melancarkan serangan besar-besaran sejak 7 Oktober.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil
Kondisi di Gaza saat gencatan senjata.
Foto: Satellite image ©2023 Maxar Technologies via
Kondisi di Gaza saat gencatan senjata.

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA -- Juru bicara Unicef, James Elder mengatakan bahwa dia tiba di Gaza menjelang jeda kemanusiaan antara Hamas dan Israel, kemudian ia mendapati situasinya lebih buruk dari yang dia bayangkan.

Elder mengatakan dalam sebuah wawancara virtual bahwa dia menyaksikan kehancuran, trauma dan stres di wajahnya ketika tiba di daerah kantong yang terkepung.

Baca Juga

“Ketika saya sampai di sini, saya pikir situasinya lebih buruk dari yang saya bayangkan, dan saya pikir segalanya akan menjadi buruk,” kata dia dilansir dari laman Anadolu Agency pada Rabu (29/11/2023). Hal ini mengacu pada apartemen, jalan, mobil yang hancur dan jumlah warga sipil dan anak-anak yang terbunuh atau terlantar.

“Saya melewati Kota Gaza kemarin dengan konvoi dan kehancuran rumah, apartemen, rumah sakit ini sangat besar. Sejumlah besar pengungsi hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Dan rumah sakit adalah zona perang,” ucap dia.

 

Dia mencatat bahwa ada anak-anak yang terluka akibat perang di rumah sakit, tidak hanya di ruang gawat darurat, namun juga di luar tempat parkir dan taman.

“Jadi, ini adalah situasi yang menyedihkan. Ada lebih dari 1,5 juta orang yang mengungsi,” kata Elder.

Elder mencatat bahwa terdapat antrian berjam-jam bagi anak perempuan untuk menggunakan kamar mandi, kekurangan air dan tepung juga masih merupakan tantangan yang harus diatasi.

“Jadi, empat hari terakhir ini sangat penting dalam mengatasi hal tersebut,” kata Elder mengacu pada jeda kemanusiaan.

Juru bicara tersebut mengatakan konvoi yang ia ikuti bersama UNICEF membawa pasokan medis, perlengkapan untuk wanita hamil, perlengkapan darurat untuk dokter, dan multivitamin untuk anak-anak.

“Setiap kali truk air tiba di suatu tempat, Anda tahu, orang-orang sangat membutuhkannya sehingga mereka hampir langsung meminumnya,” tegas Elder.

Dia mengatakan, bahan bakar untuk pabrik desalinasi, makanan dan tepung, gas untuk memasak, hal-hal tersebut sudah tersedia sekarang. Elder menjelaskan bahwa warga sangat membutuhkan dan kehidupan dua juta orang telah berubah drastis dalam waktu singkat, dan pengiriman bantuan telah dibatasi begitu lama.

Elder menekankan bahwa diperlukan waktu lebih dari empat hari untuk menyalurkan bantuan kepada semua orang yang membutuhkan, ia menekankan bahwa masih sangat sulit untuk mencapai bagian utara Gaza. Ia mengatakan dibutuhkan waktu empat jam bagi konvoi bantuan untuk menempuh jarak 30 kilometer (18,6 mil).

"Kami membutuhkan pakaian musim dingin, kami membutuhkan tenda. Semua orang butuh kelonggaran. Anak-anak butuh kelonggaran,” kata dia.

Sebelumnya Qatar mengumumkan perjanjian pada Senin (27/11/2023) malam untuk memperpanjang jeda kemanusiaan selama empat hari menjadi dua hari tambahan, di mana pertukaran tahanan lebih lanjut akan dilakukan.

Adapun Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober. Menurut otoritas kesehatan di wilayah kantong tersebut, semenjak itu telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, termasuk 6.150 anak-anak dan 4.000 perempuan. Korban tewas resmi di Israel mencapai 1.200 orang.

Sumber:

https://www.aa.com.tr/en/world/situation-in-gaza-worse-than-i-imagined-unicef-spokesperson-tells-anadolu/3067410

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement