Rabu 08 Nov 2023 21:12 WIB

Tokoh NU KH Abdul Halim Leuwimunding akan Digelari Pahlawan, Ini Sosok dan Kiprahnya

KH Abdul Halim Leuwimunding turut berjuang dalam kemerdekaan

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
KH Abdul Halim Leuwimunding turut berjuang dalam kemerdekaan
Foto: NU Online
KH Abdul Halim Leuwimunding turut berjuang dalam kemerdekaan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA –  Sosok ulama NU asal Majalengka, KH Abdul Halim Leuwimunding  akan dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini, yaitu KH Abdul Chalim Leuwimunding. Penobatan resminya akan dilaksanakan pada 10 November 2023 mendatang, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional di Istana Negara oleh Presiden Jokowi.

Siapa KH Abdul Halim Leuwimunding?

Baca Juga

KH Abdul Halim adalah ulama NU yang lahir pada 1898 di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat. Ia adalah putra dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Satimah.

Sejak kecil, Abdul Halim telah menuntut ilmu ke beberapa pondok pesantren. Di antaranya, dia pernah belajar di Pesantren Trajaya Majalengka dan Pesantren Kedungwuni Kadipaten. Selain itu, dia juga pernah mendalami ilmu agama di Pesantren Kempek Cirebon.

 

Pada 1914 M, saat usianya baru menginjak 16 tahun, ia kemudian menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz (Madinah dan Makkah). Di sanalah ia menimba ilmu secara langsung kepada para ulama besar, seperti Abu Abdul Mu’thi dan Syekh Nawawi al-Bantani.

Di Tanah Suci Makkah, Abdul Halim juga bertemu dengan ulama pendiri NU lainnnya, KH Abdul Wahab Hasbullah, yang menjadi teman sekaligus gurunya. Hampir setiap hari Kiai Halim dan Kiai Wahab bertemu, belajar dan berdiskusi menyangkut upaya untuk memajukan kaum Muslimin di Tanah Air.

Kedua tokoh NU ini memiliki semangat dan idealisme yang tinggi, sehingga keduanya pun membuat komitmen untuk langkah perjuangan. 

Kiai Halim dan Kiai Wahab saat itu membuat komitmen untuk memperjuangkan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) dan kemerdekaan rakyat Indonesia.

Kemudian, perubahan politik di Tanah Hijaz pada Perang Dunia I membuat situasi kurang nyaman, sehingga Kiai Halim terpaksa kembali ke tanah kelahirannya pada 1917. Kepulangan Kiai Halim hampir bersamaan pula dengan kepulangan Kiai Wahab ke Indonesia.

 

Baca juga: Pesan Nabi Muhammad SAW untuk Saudara-Saudara Kita di Palestina  

Di desa kelahirannya, Abdul Halim sempat membantu ayahnya yang menjadi kepala desa. Ia bahkan diminta membantu kegiatan ayahnya dalam urusan kemasyarakatan sebagai juru tulis Wedana Leuwimunding. Setelah ayahnya wafat pada 1921, baru lah ia berjuang dan berdakwah ke luar daerah.

Pada 1922, Kiai Abdul Halim mengembara ke Surabaya dengan berjalan kaki selama berhari-hari untuk bergabung dengan teman-teman seperjuangannya. 

Hingga akhirnya ia dipertemukan kembali dengan Kiai Wahab Hasbullah, senior dan gurunya saat di negeri Hijaz.

Setelah bertemu Kiai Wahab, Kiai Halim kemudian dipercaya sebagai pengajar di Nahdlatul Wathon di kampung Kawatan VI Surabaya. 

Nahdlatul Wathon merupakan...

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement