Senin 24 Jul 2023 07:36 WIB

Matangkan Persiapan Kongres Budaya Umat Islam, LSBPI MUI Gelar Konsinyering

Kongres Budaya Umat Islam melewati perjalanan panjang.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi budaya menari Muslim Xinjiang.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Ilustrasi budaya menari Muslim Xinjiang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat akan menggelar acara Kongres Budaya Umat Islam Indonesia. Kegiatan tersebut rencananya digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Rabu (26/7/2023) nanti.

Terkait persiapan acara ini, LSBPI MUI menggelar konsinyering di Jakarta, Rabu (19/7/2023) kemarin. Konsinyering itu dihadiri oleh Panitia Pengarah (SC) dan Panitia Pelaksana (OC) dan dipimpin langsung oleh Ketua MUI yang membawahi LSBPI, Dr KH Jeje Zainudin.

Baca Juga

Ketua Panitia Kongres Budaya Umat Islam, Ustadz Erick Yusuf, mengatakan konsinyering dilaksanakan dalam rangka pematangan tema yang akan dibahas di kongres.

“Jadi sebetulnya, pertemuan ini adalah pertemuan dari tim perancang tema kongres agar matang. Agar pembahasan per-komisi matang, yang akan digulirkan di dalam kongres. Dan nanti menjadi menjadi satu tawaran solusi untuk masyarakat,” kata Ustadz Erick Yusuf dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Ahad (23/7/2023).

 

Erick berharap dengan adanya konsinyering ini, para narasumber bisa mendapatkan satu kerangka bahasan yang tajam, untuk memaparkan materi atau makalahnya.

Terkait narasumber, ia menyebut Kongres Budaya Umat Islam Indonesia akan menampilkan narsum dari para pakar, para ahli, alim ulama, dan praktisi di bidang seni budaya Islam. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas yang mumpuni.

Ketua MUI yang membawahi bidang seni budaya dan perababan Islam, Dr KH Jeje Zainudin, menambahkan konsinyering ini merupakan  salah satu upaya untuk mematangkan seluruh rangkaian acara kongres. Hal ini dimulai dengan menyepakati tema besar, serta poin-poin pembicaraan di seminar ataupun di komisi.

Selain itu, kata-kata kunci untuk merumuskan rekomendasi dan deklarasi sebagai draf yang ditawarkan kepada peserta, sebagai produk yang dihasilkan dari kongres juga ikut dibahas.

“Sehingga insya Allah, kongres ini menghasilkan kesepakatan statement dalam bentuk deklarasi maupun rekomendasi. Maka konsinyering ini penting untuk penyelarasan konsep-konsep kongres tersebut,” ucap Kiai Jeje.

Dalam kesempatan sebelumnya, Ustadz Erick Yusuf memaparkan Kongres Budaya Umat Islam Indonesia merupakan sebuah perjalanan panjang dari Ketua MUI yang sebelumnya, KH Ma’ruf Amin.

Beliau disebut  mengamanatkan dengan adanya berbagai masalah tentang seni budaya di keumatan, maka diperlukan sebuah kajian yang bisa menentukan arah bagaimana sebetulnya seni budaya Islam di Indonesia.

Kongres Budaya Umat Islam melewati perjalanan panjang yang telah dilakukan oleh LSBPI MUI. Hal ini mulai dari musyawarah nasional atau Munas, FGD-FGD Road to Kongres, hingga Multaqo seniman dan budayawan Indonesia.

"Dari kegiatan FGD dan Multaqo itu, menghasilkan  rekomendasi-rekomendasi  dari para ahli/akademisi expert yang memberikan pandangan-pandangannya,” kata Erick Yusuf.

Terakhir, ia menambahkan Kongres Budaya Umat Islam Indonesia diharapkan menjadi sebuah oase di tengah  dahaga pembahasan yang bisa memberikan wawasan bahkan tuntunan kepada masyarakat, khususnya umat Muslim. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement