Selasa 28 Mar 2023 06:49 WIB

Calon Pemimpin Skotlandia Seorang Muslim Kelahiran Glasgow

Skotlandia berpotensi dipimpin seorang Muslim.

Rep: Lintar Satria/ Red: Muhammad Hafil
Calon Pemimpin Skotlandia Seorang Muslim Kelahiran Glasgow. Foto ilustrasi:   Masjid di Skotlandia
Foto: Youtube
Calon Pemimpin Skotlandia Seorang Muslim Kelahiran Glasgow. Foto ilustrasi: Masjid di Skotlandia

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Partai nasionalis Skotlandia memilih Humza Yousaf sebagai calon pemimpin. Setelah pemilihan yang mengungkapkan perpecahan di dalam partai mengenai kebijakan dan kampanye kemerdekaan.

Muslim berusia 37 tahun itu menggantikan Nicola Sturgeon sebagai ketua partai berkuasa Scottish National Party (SNP). Ia akan mengikuti pemilihan di parlemen untuk menjadi kepala pemerintahan semi-otonom Skotlandia berikutnya.

Yousaf mengatakan ia akan fokus mengatasi krisis biaya hidup dan kembali mendorong gerakan kemerdekaan.

"Rakyat Skotlandia membutuhkan kemerdekaan dibandingkan sebelumnya, dan kami akan menjadi generasi yang melakukannya," kata Yousaf usai hasil pemilihan diumumkan, Senin (27/3/2023).  

 

Kemenangan Yousaf dikonfirmasi di lapangan rugbi Murrayfield di Edinburgh. Usai kampanye enam pekan di mana tiga kandidat saling mengkritik rekam jejak dan menyerang pribadi masing-masing.

Persatuan SNP retak karena perbedaan pendapat soal bagaimana mencapai referendum kemerdekaan dan cara terbaik untuk memperkenalkan reformasi sosial seperti hak-hak transgender. Tujuan utama Yousaf menguasai SNP untuk melepaskan Skotlandia dari Inggris.

Saat Sturgeon mundur tidak ada kesepakatan mengenai bagaimana cara menggelar referendum. Perpecahan di partai itu meredakan tekanan pada Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak yang juga menghadapi perpecahan di partainya sendiri, gelombang aksi mogok kerja dan tingginya inflasi.

Yousaf memenangkan 24.336 suara anggota SNP di putaran pertama, pesaing utamanya Kate Forbes yang saat ini menteri keuangan mendapatkan 20.559 suara. Ash Regan yang mundur dari pemerintahan karena menolak perubahan pengakuan gender mendapatkan 5.599 suara.

Yousaf yang sejak awal diunggulkan sebagai pengganti Sturgeon berjanji melanjutkan pencapaian pendahulunya. Termasuk mempermudah transgender untuk mendapat pengakuan saat mengganti gendernya.

Yousaf menyuarakan kebutuhan untuk fokus mendorong kemerdekaan dan mendapatkan dukungan konsisten pada gerakan tersebut. Ia menambahkan akan terbuka pada prosesnya ketika tingkat dukungan yang dibutuhkan sudah tercapai.

Yousaf menekankan latar belakangnya, seorang muslim kelahiran Glasgow, ayahnya berasal dari Pakistan dan ibunya dari Kenya. Sebagai contoh masyarakat inklusif, liberal secara sosial dan multi-etnis yang dipromosikan SNP.

Selama kampanye Yousaf lebih tenang dibandingkan Forbes, anggota Free Church of Scotland dalam menyeimbangkan pandangan keagamaannya dengan kebijakan-kebijakan partai yang progresif sosialis.

Forbes dikritik karena ia mengumumkan menentang pernikahan sesama jenis, sementara Yousaf mengatakan ia mendukungnya. Pada 2016 lalu Yousaf mengambil sumpah di parlemen Skotlandia dalam bahasa Urdu sambil memakai rok pakaian tradisional Skotlandia.

Dalam kampanye kemerdekaan Yousaf mengatakan Skotlandia harus mempertimbangkan membuang monarki Inggris.

Pada pemilihan tahun 2014 lalu sebanyak 45 sampai 55 persen pemilih Skotlandia menolak merdeka dari Inggris. Dua tahun kemudian Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, sebagian besar masyarakat Skotlandia memilih tetap bertahan dengan blok tersebut.

Brexit dan langkah Skotlandia mengatasi pandemi virus korona membawa dukungan baru pada gerakan kemerdekaan. Tapi jajak pendapat bulan ini menunjukkan dukungan untuk lepas dari Inggris turun antara 46 sampai 38 persen. Turun dibandingkan jajak pendapat tahun 2020 yang sebanyak 58 persen. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement