Rabu 15 Mar 2023 13:58 WIB

Peristiwa Teror Masjid Christchurch Buat Wanita Auckland Mantap Berjilbab

Ali mengungkapkan dia begitu gugup untuk memakai jilbab.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah
Para korban terluka dalam penembakan masjid melaksanakan shalat Jumat di Hagley Park di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Peristiwa Teror Masjid Christchurch Buat Wanita Auckland Mantap Berjilbab
Foto: AP Photo/Vincent Thian
Para korban terluka dalam penembakan masjid melaksanakan shalat Jumat di Hagley Park di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Peristiwa Teror Masjid Christchurch Buat Wanita Auckland Mantap Berjilbab

REPUBLIKA.CO.ID, AUCKLAND -- Peristiwa tragis 15 Maret empat tahun lalu membantu seorang perempuan Auckland, Rhanas Ali mendapatkan kepercayaan diri untuk mulai mengenakan hijab.

Ali mengatakan, dia terkejut mengetahui tentang serangan teroris di masjid Christchurch pada 15 Maret 2019. Terlebih lagi ketika dia mengenal salah satu dari 51 korban.

Baca Juga

Segera setelah itu, Ali pergi bekerja di mana rekan kantornya mengheningkan cipta selama satu menit untuk para korban. Semua rekannya mengenakan jilbab untuk menghormati mereka yang meninggal.

Sebagai seorang wanita Muslim sendiri, pada hari itulah dia memutuskan mencoba mulai mengenakan jilbab. Sampai saat itu, Ali mengatakan dia merasa tidak nyaman dengan ide mengenakannya.

 

"Tapi saya pikir, 'Tidak, saya akan mulai. Saya akan mencobanya. Saya selalu bisa melepasnya jika saya tidak percaya diri'," kata Ali, dilansir dari Radio New Zealand, Rabu (15/3/2023).

Ali mengungkapkan dia begitu gugup untuk memakai jilbab. Dia biasa berjalan ke tempat kerja dan khawatir tentang apa yang mungkin dikatakan orang di jalanan. Akan tetapi dia mulai memakainya untuk bekerja, mencocokkan pakaiannya dengan jilbabnya.

Dia mencoba banyak gaya yang berbeda, dan semua orang menerima serta memuji dia tentang bagaimana dia menatanya. Mengenakan jilbab untuk bekerja juga membantunya menghemat uang karena ia biasa menghabiskan banyak uang untuk rambutnya.

Sementara wanita Auckland lainnya, Ayesha, mengatakan dia telah mengenakan hijab selama empat tahun saat serangan terjadi. Dia juga mengenal seseorang yang meninggal. Terlepas dari peristiwa mengerikan yang terjadi, Ayesha mengatakan dia merasa lebih percaya diri menjadi seorang Muslim yang terlihat sekarang.

"Setiap kali seseorang membuat komentar, saya hanya seperti 'apa yang Anda maksud dengan itu?' Atau saya ambil kesempatan itu untuk mendidik mereka, padahal sebelumnya saya abaikan saja. Kamu tidak punya hak untuk menilaiku atau menanyaiku," ucap Ayesha.

Ayesha mengungkapkan, dia akan menghabiskan Rabu ini, peringatan serangan teror, berdoa dan mengingat mereka yang kehilangan nyawa.

Di samping itu, Komunitas Muslim Selandia Baru mendesak perdana menteri untuk tidak mengingkari janji pemerintah, empat tahun setelah serangan masjid Christchurch. Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru telah merilis sebuah laporan yang bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah setelah penyelidikan komisi kerajaan atas serangan tersebut.

Mantan perdana menteri Jacinda Ardern berjanji untuk menerapkan semua 44 rekomendasi yang diajukan oleh penyelidikan pada Desember 2020. Ketua federasi Abdur Razzaq mengatakan, dia berharap Perdana Menteri Chris Hipkins dan pemerintah akan terus melaksanakan rekomendasi penyelidikan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement