Selasa 07 Feb 2023 22:55 WIB

Tumpeng Satu Abad Nahdlatul Ulama dari Australia

Istighosah Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dipusatkan di Sydney.

Tumpengan satu abad NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand
Foto: NU
Tumpengan satu abad NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang puncak acara satu abad Nahdlatul Ulama di Sidoardjo, Jawa Timur tanggal 7 Februari 2023 bertepatan dengan 16 Rajab 1444H, PBNU menginstruksikan para pengurus NU di tingkat Ranting, Anak Cabang, Cabang maupun Wilayah untuk mengadakan pelaksanaan istighosah secara serempat di mana saja berada.

Dengan instruksi tersebut, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama yang berada di luar negeri dimotori oleh Ketua Tanfidziyah India, Gus Rizal Maula mengajak para pengurus cabang istemewa lainnya untuk  mengadakan istigosah di luar negeri.

Setidaknya ada 31 PCI NU tersebar di seluruh penjuru belahan dunia dan alhamdulillah 18 PCI NU sepakat mengadakan acara istighosah di negara masing-masing, baik itu secara online maupun offline.

Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand pada hari Ahad 5 Februari 2023 mengadakan istighosah sesuai dengan instruksi PBNU diatas tertanggal 20 Januari 2023. Istighosah NU Australia – New Zealand dipusatkan di Sydney dan berlangsung secara hybrid. Sebagian besar datang ke tempat Istighosah secara langsung dan Sebagian lagi hadir secara virtual melalui aplikasi zoom.

 

Pelaksanaan istighosah di Sydney itu juga bersamaan dengan pembukaan hari pertama dimulainya tahun ajaran baru TPQ Maarif Sydney.

Dalam acara istighosah ini hadir Sebagian besar pengurus NU Australia dan New Zealand and kegiatan ini dipimpin oleh Ajengan Mumu Mubarok Western Australia selaku Musytasar PCI NU ANZ. Pembacaan istighosah berlangsung hikmat selama lebih dari 40 menit.

Prof KH Dr Nadirsyah Hosen selaku Rais Syuriah memberikan sambutan singkat dan mengajak para hadirin untik mebacakan surat al-Fatihah kepada para Muassis Nahdlatul Ulama. Gus Nadir, begitu biasanya beliau disapa, juga menutup acara istighosah dengan doa.

Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Australia dan New Zealand, Yusdi Maksum juga memberikan sambutan di depan para santri TPQ Maarif Sydney yang berusia antara 4 sampai 16 tahun. Ia menakankan bahwa dalam kesempatan yang luar bias aini para santri diajak untuk berdzikir dan berdoa semoga jamiyyah NU di Australia dan TPQ tetap exist sampai ke abad 2 NU.

Ustadz Emil Idad, selaku Wakil Rais Syuriah NU Australia dan New Zealand menegaskan bahwa kegiatan istighosah di Sydney sukses karena kerja sama antara mahasiswa dan ibu-ibu pengajian NU Sydney yang telah mempersiapkan segala aktivitasnya. Entusias para hadirin dalam kegiatan ini dilatarbelakangi untuk mendapat berkah pengabdian terhadap organisasi jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Sementara ketua pengajian NU Sydney, Ustadz Muhammad Johan Nasrul Huda menyampaikan keeberhasilan kegiatan istighosah NU satu abad ini tidak luput dari peran para muslimat dan fatayat Nahdlatul Ulama Sydney yang sibuk mempersiapkan segala logistic, makanan, minuman bagi para Jemaah hadirin yang datang ke acara ini. Ibu-ibu pengajian NU Sydney ini juga mempersembahkan tumpeng untuk satu abad Nahdlatul Ulama sebagai upaya nguri-nguri budaya Jawa di acara harlah Nahdlatul Ulama Satu Abad.

Acara ditutup dengan tausyiah oleh Ustadz Muhammad Hasan Basri, PhD. Yang menceritakan asal usul makna “nahdlah” dari kisah Mas Alwi, salah seorang muassis Nahdlatul Ulama. Ustadz Hasan Basri diakhir tausyiah membacakan puisi berjudul “Orang-orang Sarungan” yang disadur dari karya Sosiawan Budi Sulistyo atau lebih dikenal sebagai Sosiawan Leak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement