Kamis 10 Nov 2022 17:36 WIB

Serambi Buya Syafii Diresmikan di Sleman

Ketum PP Muhammadiyah resmikan serambi Buya Syafii.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil
Pengunjung melihat mesin tik yang digunakan Buya Syafii Maarif di Serambi Buya Syafii, Perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/11/2022). Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional Muhammadiyah meresmikan Serambi Buya Syafii. Serambi Buya Syafii merupakan kediaman dari sosok almarhum Syafi
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pengunjung melihat mesin tik yang digunakan Buya Syafii Maarif di Serambi Buya Syafii, Perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/11/2022). Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional Muhammadiyah meresmikan Serambi Buya Syafii. Serambi Buya Syafii merupakan kediaman dari sosok almarhum Syafi

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Bertepatan Hari Pahlawan Nasional 10 November, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, meresmikan Serambi Buya Syafii. Berlokasi di Perumahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, DIY.

Serambi Buya Syafii merupakan rumah kediaman dari sosok almarhum Ahmad Syafii Maarif yang sejak 1 Oktober 2022 dikelola Suara Muhammadiyah. Rumah ini memiliki nilai-nilai sejarah yang penting untuk menjadi acuan bagi bangsa Indonesia.

Baca Juga

Sebab, berpijak dari rumah itulah, Buya Syafii tumbuh sebagai tokoh negarawan dan guru bangsa yang berkontribusi bagi dunia. Serambi Buya Syafii dimaksudkan sebagai rumah intelektual dan tempat persemaian gagasan bagi semua kalangan.

Di tempat ini, nilai-nilai Buya Syafii ingin dihidupkan kembali dan ditularkan kepada generasi bangsa. Menyimpan benda yang biasa digunakan Buya Syafii serta 9.000 koleksi judul-judul buku yang dimiliki Buya Syafii tentang beragam tema.

Dalam amanatnya, Haedar mengenang sosok Buya yang mampu membungkus ketegasan, rasionalitas dengan humanis. Hal itu tercermin dari keseharian Buya yang tetap menjalani hidup dengan santai, sekalipun sudah menjadi tokoh yang besar.

Ia menekankan, sampai akhir hayatnya Buya Syafii tetap tidak berjarak dengan realitas, mudah dijangkau oleh siapapun. Karenanya, Haedar turut berpesan agar meneladani salah satu sifat Buya yang senantiasa menjaga kesederhanaan tersebut.

"Jadi siapapun itu, tetap menjadi manusia biasa yang memancarkan humanis, dan humanis-nya juga biasa, tidak dibuat-buat, dan itulah otentisitas yang selalu diajarkan beliau kepada kita," kata Haedar, Kamis (10/11/2022).

Serambi Buya Syafii mengajak siapapun untuk mengunjungi dan merefleksikan nilai nilai kehidupan Buya. Harapannya, lebih dekat den terdorong untuk melanjutkan komitmen, perjuangan mewujudkan cita-cita keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan.

Hal itu untuk mengoptimalkan Serambi Buya Syafii untuk menjadi etalase pemikiran Buya Syafii. Karenanya, pengelola tetap membutuhkan dukungan moral dan dukungan materi dari berbagai pihak yang dapat disalurkan melalui Suara Muhammadiyah.

Direktur Pusdalitbang Suara Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja, menyampaikan apresiasi kepada keluarga yang telah mengizinkan kediaman Buya menjadi Serambi Buya Syafii. Terlebih, koleksi buku-buku dan catatan-catatan Buya sangat banyak.

Isngadi menilai, keberadaan Serambi Buya Syafii sangat penting agar lebih banyak orang mengakses. Ia berharap, dalam waktu dekat lokasi baru Serambi Buya Syafii bisa terwujud untuk memperluas akses orang-orang yang ingin tahu pemikiran Buya.

"Kami mohon doa restu agar secepatnya kami bisa mewujudkan ruangan itu, sehingga kita bisa melihat, berdiskusi, bersama buku-buku Buya dengan lebih mendalam dan personal," ujar Isngadi.

Syafii lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau. Syafii merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada periode 1998-2005 dan sempat menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Atas karya-karyanya, Syafii mendapat penghargaan Ramon Magsaysay dari Pemerintah Filipina. Damien Dematra membuat novel tentang masa kecil Syaafii berjudul Si Anak Kampung dan meraih penghargaan American International Film Festival (AIFF).

Buya wafat pada usia 86 tahun, 27 Mei 2022 di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Sebelumnya, cendekiawan Muslim itu sempat beberapa kali dirawat di rs, lalu menjalani bedrest dan dirawat sejak 14 Mei 2022 setelah alami sesak napas.

Buya ditangani spesialis jantung karena diduga masih terkait serangan jantung ringan yang dialami Maret 2022. Jenazah Buya disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman dan dimakamkan di Pemakaman Muhammadiyah, Donomulyo, Nanggulan, Kulonprogo. 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement