Rabu 15 Dec 2021 08:49 WIB

Respons Kasus Cibiru, Gus Yasin: Jangan Biarkan Masyarakat Fobia Pesantren

Gus Yasin meminta masyarakat tak fobia terhadap pesantren yang murni

Rep: Bowo Pribadi / Red: Nashih Nashrullah
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj yasin Maimoen,  meminta masyarakat tak fobia terhadap pesantren yang murni
Foto: dok. Istimewa
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj yasin Maimoen, meminta masyarakat tak fobia terhadap pesantren yang murni

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Terungkapnya kasus pencabulan belasan santriwati di Madani Boarding School, Cibiru, Kota Bandung, dinilai sangat merugikan dan telah mencoreng nama baik pesantren. 

Namun, hal itu tidak boleh membuat masyarakat menjadi fobia terhadap pondok pesantren. Sebaliknya, peristiwa ini harus menjadi momentum untuk membuktikan dan menyuarakan kepada masyarakat mengenai ajaran pondok pesantren yang murni.

Baca Juga

Dia menegaskan, pondok pesantren yang murni adalah yang mengedepankan akhlakul karimah serta norma dan syariat Islam. Sehingga masyarakat tidak gampang memberikan stigma negatif kepada semua pesantren. "Karena ternyata Madani Boarding School tersebut bukan pondok pesantren," ujar Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Rabu (15/12). 

Menanggapi terungkapnya kasus boarding school di Cibiru, Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin Maimoen, meminta masyarakat harus bisa membedakan antara pondok pesantren yang benar-benar mengajarkan syariat dan mengajarkan nilai-nilai akhlakul karimah dengan lembaga yang 'abal-abal'. 

 

Apabila persoalan seperti ini tidak direspons, dia melanjutkan, berpotensi membuat masyarakat tidak percaya dengan pendidikan di pondok pesantren. Masyarakat menjadi fobia karena pondok pesantren tidak memberikan jaminan rasa aman dan nyaman untuk belajar agama. 

Kalau masyarakat menjadi fobia dengan pondok pesantren, bagaimana tanggung jawab masyarakat pesantren? "Padahal lebih banyak pondok pesantren yang bagus dalam pengelolaaan pendidikannya," kata Gus Yasin. 

Oleh karena itu, Wagub berpandangan, organisasi Islam perempuan seperti JP3M bisa membantu menyuarakan pendidikan pondok pesantren. Antara lain dengan mengunggah konten-konten positif di media sosial. 

Di samping itu, bisa juga bergabung dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah. Dengan bergabung ke BKOW, bisa melakukan kontribusi yang lebih besar dalam menyuarakan pesantren yang sesungguhnya. 

Dalam organisasi BKOW, JP3M bisa menyisipkan niliai ajaran Islam sekaligus menyampaikan bahwa pondok pesantren tidak hanya memikirkan kepentingan pondok sendiri. "Tetapi, juga memberi perhatian pada lingkungan di sekitarnya," kata Wagub.   

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement