Kamis 01 Jul 2021 05:05 WIB

Masjid di Christchurch Kembali Terima Ancaman Kekerasan

Selandia Baru hendak memperkuat undang-undang hasutan kebencian dan diskriminasi.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah
Masjid di Christchurch Kembali Terima Ancaman Kekerasan. Masjid Al Noor di Deans Avenue, Christchurch, Selandia Baru
Foto: EPA-EFE/MARTIN HUNTER
Masjid di Christchurch Kembali Terima Ancaman Kekerasan. Masjid Al Noor di Deans Avenue, Christchurch, Selandia Baru

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Masjid An-Nur di Christchurch, Selandia Baru kembali menjadi sasaran ancaman kekerasan baru. Penargetan kekerasan terhadap masjid ini terjadi di tengah rencana pemerintah Selandia Baru yang hendak memperkuat undang-undang ujaran kebencian serta meningkatkan hukuman untuk hasutan kebencian dan diskriminasi.

Langkah reformasi itu dilakukan setelah Komisi Penyelidikan Kerajaan merekomendasikan perubahan pada undang-undang ujaran kebencian dan kejahatan kebencian. UU ini dinilai kurang kuat memberikan hukuman pada orang-orang yang menargetkan kelompok agama dan minoritas lainnya.

Baca Juga

Usulan itu datang menanggapi serangan teror oleh seorang supremasi kulit putih di Christchurch pada 2019 yang menewaskan 51 Muslim. Untuk insiden kali ini, polisi telah menerima tiga laporan terpisah yang berkaitan dengan masjid Christchurch dalam dua pekan terakhir. Insiden tersebut digambarkan oleh seorang menteri senior sebagai hal serius.

Komandan area metro Canterbury, Lane Todd, mengatakan masalah itu dilaporkan ke polisi dari perwakilan Masjid Al Noor. Dia mengatakan ketiga laporan itu sedang ditindaklanjuti secara aktif. Namun, ketiga laporan itu tidak terhubung satu sama lain.

 

Ketua Federasi Asosiasi Islam Abdur Razzaq bertanggung jawab atas salah satu laporan tersebut setelah dia menarik perhatian polisi terhadap sebuah gambar ofensif di forum online 4chanFoto itu memperlihatkan seorang pria bermasker yang berswafoto dan berpose di dalam mobil yang diparkir di luar Masjid An-Noor, dengan disertai komentar yang mengancam terhadap orang-orang di dalam masjid.

"Langsung kami hubungi polisi, polisi sudah ke sana dalam waktu delapan menit. Hal itu sedang diperiksa, layanan intelijen keamanan (SIS) terlibat. Jadi kami senang dengan waktu respons yang cepat seperti itu tetapi rasisme masih ada, masih ada. Inilah mengapa saya mengatakan mengapa semua orang perlu melihat temuan Komisi Kerajaan," kata Abdur Razzaq, dilansir di Stuff, Rabu (30/6).

Gambar tersebut pertama kali muncul di aplikasi pesan terenkripsi Telegram dan tidak lagi tersedia di situs 4chanMenteri yang bertanggung jawab atas dua badan intelijen Selandia Baru, GCSB dan SIS, Andrew Little tidak akan mengonfirmasi SIS terlibat dalam kasus ini. Namun, ia menegaskan kembali mereka memiliki mandat mengumpulkan intelijen tentang ancaman teroris dan kekerasan ekstremis.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement