Kamis 29 Apr 2021 14:59 WIB

Muslim Jerman: Agama Bukan Ukuran Baik untuk Integrasi

Populasi Muslim menjadi lebih beragam di Jerman.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Muslim Jerman: Agama Bukan Ukuran Baik untuk Integrasi. Keluarga imigran Muslim di Jerman
Foto: stratfor
Muslim Jerman: Agama Bukan Ukuran Baik untuk Integrasi. Keluarga imigran Muslim di Jerman

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Wir schaffen das atau "Kita bisa melakukannya" adalah kata-kata terkenal yang digunakan Kanselir Jerman Angela Merkel pada 2015 untuk menunjukkan Jerman siap menerima sejumlah besar pengungsi.

Hampir enam tahun kemudian, sebuah penelitian menunjukkan ada jauh lebih banyak Muslim di Jerman dibandingkan pada 2015 dan populasinya menjadi kurang homogen.

Baca Juga

"Populasi Muslim menjadi lebih beragam dalam konteks imigrasi dari negara-negara mayoritas Muslim dalam beberapa tahun terakhir," kata Kepala Kementerian Migrasi dan Pengungsi Jerman, Hans-Eckhard Sommer, pada konferensi pers dilansir di Deutsche Welle, Rabu (28/4).

Menurut penelitian, ada 5,3 hingga 5,6 juta Muslim dengan latar belakang migran atau sekitar 900 ribu lebih banyak dibandingkan 2015. Ini merupakan antara 6,4 hingga 6,7 persen dari seluruh populasi Jerman. Migration background atau latar belakang migran menjadi istilah yang digunakan dalam bahasa Jerman untuk menggambarkan migran generasi pertama atau keturunan migran.

Sementara jumlah terbesar Muslim di Jerman adalah keturunan Turki. Namun, seperti yang telah terjadi selama beberapa dekade, negara asal menjadi lebih beragam. Kemungkinan besar karena konsekuensi dari tingginya jumlah pengungsi dari negara-negara seperti Suriah dan Irak sejak 2015.  

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement