Senin 16 Nov 2020 14:14 WIB

Muhammadiyah Ingatkan Ancaman Bangsa Terkait Persatuan

Haedar mengingatkan berbagai bidang harus berpijak pada nilai agama dan Pancasila.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Muhammadiyah Ingatkan Ancaman Bangsa Terkait Persatuan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.
Foto: Dokumen.
Muhammadiyah Ingatkan Ancaman Bangsa Terkait Persatuan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menilai salah satu ancaman bangsa Indonesia di masa mendatang terkait persatuan nasional. Dia mengingatkan, berbagai bidang mulai dari politik, ekonomi hingga budaya harus berpijak pada nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa.

"Muhammadiyah memandang, salah satu ancaman bangsa kita ke depan itu soal persatuan nasional, persatuan Indonesia. Politik yang semakin bebas, kalau tidak berpijak pada nilai-nilai agama, Pancasila dan kebudayaan luhur bangsa, itu akan semakin mengarah pada, setiap orang bebas melakukan apa pun," kata dia dalam konferensi pers virtual, Senin (16/11).

Baca Juga

Haedar juga menyebut model ekonomi saat ini cenderung liberal sehingga hanya berpihak pada siapa yang kuat dan berkuasa. Begitu pun kehidupan sosial budaya terutama di era media sosial yang membuat banyak orang cenderung bebas berbuat apa saja.

Adanya perbedaan politik tak lepas dari sorotan Haedar. Menurutnya, perbedaan politik merupakan dinamika berdemokrasi. Tetapi dia mengingatkan keselamatan dan masa depan bangsa ada di pundak setiap warga. Pemerintah, DPR dan semua institusi kenegaraan pun memiliki tanggung jawab politik yang besar.

"Bahwa masa depan bangsa tergantung pada sikap kenegarawanan para elite bangsa, yakni jiwa, sikap, alam pikiran dan tindakan yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan yang lain," tuturnya.

Haedar menyadari, masalah yang berat tentu bisa terjadi. Namun, jika tetap berada dalam semangat persatuan Indonesia, tidak ada masalah yang tidak terpecahkan. Sebaliknya, bila bercerai-berai, saling berhadapan satu sama lain, pemerintah berhadap-hadapan dengan rakyat, masyarakat saling berselisih, maka masalah ringan pun menjadi berat. "Di sinilah pentingnya jiwa kenegarawanan yang berdiri di atas prinsip persatuan Indonesia," ucapnya.

Masalah yang menimpa negeri ini, terang Haedar, semakin lama semakin kompleks. Ketika persoalan itu tidak bisa ditemukan solusinya, lalu akan mengakumulasi masalah yang ada. Karena itu, diperlukan gerakan kolektif untuk berikhtiar menyelesaikan semua masalah yang dihadapi negara ini.

"Kami tidak bisa sendiri. Ketika kita menghadapi masalah, kuncinya adalah persatuan Indonesia. Jangankan masalah ringan, masalah berat pun bisa menjadi lebih ringan jika kita bersama," katanya.

Muhammadiyah, di usianya yang sudah menginjak 108 tahun ini, sebagai gerakan Islam dan kemasyarakatan yang berdiri sebelum Republik ini berdiri, telah berkiprah untuk memajukan bangsa dan negara. Di antaranya melalui pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, dan dakwah ke berbagai komunitas untuk mencerahkan cara berpikir sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Kami ingin membawa kehidupan bangsa dan negara kita menjadi lebih baik, lebih berkemajuan. Ikhtiar ini tentu bukan pekerjaan ringan. Apa yang kami lakukan itu dengan perjuangan berat, tidak lain dan tidak bukan untuk kemajuan bangsa. Pengkhidmatan Muhammadiyah adalah untuk bangsa dan negara," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement