Senin 06 Apr 2020 08:40 WIB

Manfaatkan Covid-19, Kelompok Anti-Muslim Diselidiki Polisi

Kelompok Anti-Muslim memanfaatkan isu covid-19.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Manfaatkan Covid-19, Kelompok Anti-Muslim Diselidiki Polisi. Foto: Ilustrasi Islamofobia
Foto: Foto : MgRol_94
Manfaatkan Covid-19, Kelompok Anti-Muslim Diselidiki Polisi. Foto: Ilustrasi Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Polisi anti-terorisme di Inggris sedang menyelidiki kelompok-kelompok sayap kanan yang dituduh mencoba menggunakan krisis Covid-19 untuk memicu sentimen anti-Muslim.

Kelompok pemantau, Tell Mama, mengatakan pada bulan Maret pihaknya mencatat lusinan insiden kelompok sayap kanan yang diduga berusaha menyalahkan Muslim Inggris atas penyebaran virus tersebut.

Baca Juga

Tell Mama harus membantah sejumlah klaim yang dibuat di media sosial, bahwa umat Islam melanggar aturan karantina wilayah dengan terus menghadiri masjid untuk beribadah. Ada juga insiden di mana umat Muslim diserang.

Dalam sebuah cuitan dari seorang nasionalis kulit putih terkemuka, disebut umat Islam melanggar karantina wilayah dengan berkumpul di luar sebuah masjid di Wembley. Tell Mama menolak klaim ini, dan setelahnya mendorong pengguna lain untuk melaporkan konten tersebut. Twitter lantas menghapus tweet tersebut dan membatasi pergerakan akun tersebut.

Dilansir di The Guardian, beredar sebuah video yang dibagikan di Telegram oleh Tommy Robinson, pendiri dan mantan pemimpin Liga Pertahanan Inggris (EDL). Video itu diklaim menunjukkan sekelompok pria Muslim meninggalkan "masjid rahasia" di pusat kota Birmingham.

Video itu telah ditonton 10.000 kali di platform tersebut.  Klaim tersebut lantas kemudian ditolak oleh polisi West Midlands.

Polisi Yorkshire Barat juga menolak gambar-gambar yang diduga memperlihatkan orang-orang Muslim menghadiri shalat Jumat. Polisi menunjukkan bahwa gambar tersebut diambil sebelum aturan karantina wilayah diumumkan.

Selain itu, Polisi Shropshire juga mengambil tindakan setelah sebuah cuitan dari akun berhaluan kanan dengan jahat mengklaim bahwa sebuah masjid merusak aturan karantina. Konten itu juga dilaporkan ke Twitter.

"Para ekstremis ini menggunakan Covid-19 untuk menyampaikan bahwa entah bagaimana komunitas Muslim yang harus disalahkan atas penyebaran pandemi global," ujar Direktur Tell Mama, Iman Atta dikutip di The Guardian, Senin (6/4).

Ia menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran berulang oleh individu yang sudah dikenal memiliki pandangan anti-Muslim. Pihak tersebut telah berulang kali melihat bencana atau musibah sebagai cara untuk menyebabkan kekacauan dan ketegangan di masyarakat.

"Pada saat-saat seperti ini, ketika ada tekanan di masyarakat bahwa beberapa orang memanipulasi, ini untuk memicu kebencian dan perpecahan di seluruh komunitas," lanjutnya.

Akun-akun penting saling berkaitan menyebarkan desas-desus jahat terhadap umat Islam. Termasuk kisah Katie Hopkins dan mantan pemimpin Ukip, Gerard Batten.

Hopkins sebelumnya membagikan video polisi di India yang menyerang orang-orang karena berjamaah di sebuah masjid. Cuitan ini lantas ditujukan kepada polisi Humberside.

Dia menulis, "Polisi India membantu 'para lelaki damai' muda untuk membubarkan masjid yang penuh sesak saat karantina. Ada sesuatu yang ingin dicapai, hey @Humberbeat?”

Dalam sebuah cuitan yang menjadi viral, Batten menyarankan masjid tetap terbuka karena pemerintah "terlalu takut" untuk menutupnya. Batten juga mempromosikan teori konspirasi tentang Covid-19 sebagai “bioweapon” Tiongkok.

Dalam insiden lain yang dilaporkan kepada Tell Mama, seorang wanita Muslim mengatakan dia didekati oleh seorang pria yang batuk di wajahnya dan mengklaim dia menderita Covid-19. Serangan yang dituduhkan terjadi di Croydon, London selatan, pada 18 Maret telah dilaporkan ke polisi Metropolitan.

Wanita itu, yang mengenakan jilbab, mengatakan bahwa dia mencoba menghindari penyerangnya tetapi pria itu berbalik ke arahnya dan melakukan hal tersebut.

Polisi dan komisioner kejahatan untuk West Midlands, David Jamieson mengatakan, polisi anti-terorisme sedang mencari laporan bahwa kelompok-kelompok sayap kanan berusaha menggunakan pandemi untuk menciptakan perpecahan.

“Kami sadar bahwa ini digunakan sebagai kesempatan oleh kelompok sayap kanan untuk menunjukkan kesalahan beberapa kelompok etnis. Tidak perlu banyak hal untuk memunculkan ketegangan di komunitas ini. Itu adalah sesuatu yang kami pantau sangat dekat," kata Jamieson.

Kelompok advokasi Hope not Hate mengatakan mereka juga mengidentifikasi kampanye informasi anti-Muslim yang menuduh bahwa masjid-masjid masih terbuka yang bertentangan dengan saran pemerintah.

Seorang juru bicara mengatakan aktivis sayap kanan di Inggris semakin bersatu dalam pandangan mereka. Globalisasi dan imigrasi harus disalahkan atas pandemi yang sedang berlangsung.

"Mereka juga menikmati kesempatan untuk mempromosikan stereotip rasis dan teori konspirasi tentang orang-orang China di papan pesan dan media," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement