REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengingat Allah SWT bukan sekadar amalan lisan, tetapi sumber kehidupan bagi hati seorang Muslim. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy'ari, Nabi Muhammad SAW mengumpamakan orang yang berdzikir seperti orang hidup, sedangkan yang lalai dari dzikir seperti orang mati. Perumpamaan ini menunjukkan betapa dzikir menjadi penentu hidup atau matinya hati manusia di sisi Allah SWT.
Dzikir adalah puji-pujian kepada Allah SWT yang diucapkan berulang-ulang. Dengan berdzikir, seseorang mengingat Allah SWT. Dzikir juga sebagai sarana manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa orang yang tidak berdzikir bagaikan orang mati. Sebaliknya orang yang berdzikir disebut sebagai orang yang hidup.
Dari Sayyidina Abu Musa Radhiyallahu anhu, Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah SWT dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah SWT seperti orang yang hidup dan orang yang mati (orang yang berdzikir adalah seperti orang yang hidup, dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang mati)." (HR Imam Bukhari, Muslim, dan Baihaqi dari Kilab Durrul Mantsur dan Misykat)
Setiap orang sangat menyukai kehidupan dan takut kematian. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang yang tidak berdzikir kepada Allah SWT adalah orang yang hidup tetapi dianggap mati, sia-sia kehidupannya."
Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah alaih dalam buku Fadhail Dzikr menerangkan, sebagian ulama mengatakan, hadits di atas menjelaskan tentang keadaan hati, yakni orang yang selalu berdzikir hatinya hidup, sedangkan orang yang tidak berdzikir hatinya mati.




