Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Nyi Roro Kidul, Ki Sabdo di MPR: Sumber Mistis Penguasa Jawa

Ahad 20 Okt 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Lukisan Nyai Roro Kidul di kamar 308 Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah da surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Foto:
Kalijaga, Roro Kidul, Ki Sabdo di MPR: Sumber Mistis Penguasa Jawa

Sedangkan untuk soal sosok Nyi Roro Kidul juga sama eksis sebagai penasihat sprititual Raja Mataram. Saya masih ingat waktu parade jumenangan Sultan Hamengku  Buwana X ‘koran klasik’ Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat menulis berita soal fenoma munculnya kabut tipis di kereta Sultan ketika melintasi jalanan yang agak menanjak di ujung jalan Malioboro, tepatnya di kawasan Kantor Pos Jogjakarta.

Akibat pemberitaan ini publik Jogja pun ramai membicarakan. Bapak kos saya yang seorang dalang dan abdi dalem mengatakan dengan semangat bila itu sebagai pertanda Nyi Roro Kidul bersama ‘Ngersa Dalem’ di dalam kereta saat jumenangan.’’Memang tak terlihat,  tapi itu ada,’’ katanya menyakinkan.

‘Laku’ (praktik tindakan’) bila Nyi Roro Kidul selalu bersama para keturunan Raja Jawa Mataram itu pun dialami oleh Pangeran Diponegoro. Dalam kisah Babad Diponegoro, sejawarwan Inggri Pater Carey mengisahkan perjumpaan —bahkan kadang perkawinan mistis— tersebut.

Menurut Carey, Diponegoro semenjak muda gemar mengembara dengan mengikuti dan mengunjungi berbagai tempat mistis yang ada di sepanjang Pantai Selatan. Diponegoro mengikuti rute yang sudah dilalui para leluhurnya ketika dia berziarah. Dia berhenti sejenak di Gua Siluman, kemudian menghabiskan dua malam di Gua Sigologolo, di tepi kiri Kali Opak di Kecamatan Gamelan, Gunung Kidul.

“Kedua gua ini sering dikaitkan dengan dua tradisi spiritual Jawa dan sering dikunjungi elite Istana untuk bersemedi dan menyepi. Bahkan, Gua Siluman disebut-sebut sebagai bagian dari Istana Para Lelembut yang diperintah oleh Dewi Pantai Selatan, Ratu Kidul,’’ tulis Carey.

Bahkan kata Carey, ketika Pangeran Diponegoro pergi dan sampai Gua Langse (Gua dengan air tawar yang berada persis di tubir laut pantai selatan, dua jam berjalan kaki dari Parangtrirtis) dia sempat mengalami ’trance’ yang dipercaya sebagai pertanda kesiapan batinnya untuk mencapai tahap pemurnian jiwa.

Alhasil, karena jiwanya sudah murni, di Gua Langse ini akhirnya bertemu Ratu Kidul. Kedatangan sang Ratu ditandai dengan munculnya  aura sinar. “Namun, Pangeran Diponegoro sudah sangat terhanyut dalam semedinya, hingga Ratu Kidul sadar bahwa sang pangeran tidak bisa “diganggu”. Ratu pun kemudian mundur sambil berjanji suatu saat akan datang lagi,’’ tulis Carey mengutip babad Diponegoro.

Setelah perjumpaan dengan Ratu Kidul yang pertama di Gua Langse, menurut kisah Babad Diponegoro yang dikutip Carey, Pangeran Diponegoro kemudian turun ke Parangtritis dan kemudian tidur di Parangkusumo. Dalam perjalanan ziarah ini Diponegoro pun sering mendapat kontak gaib atau penerawangan dengan ruh leluhur dan penjaga spiritual tanah Jawa. Salah satunya terjadi di Gua Song Kamal, di sekitar selatan Yogyakarta.

photo
Jalan menuju gua langse yang harus menuruni tebing karena persis di tubir dinding bukit Pantai Selatan. (foto: youtube).

Dalam babad yang ditulisnya sendiri dikisahkan, Diponegoro yang saat itu tengah melakukan laku tirakat dikunjungi oleh wali legendaris Tanah Jawa, Sunan Kalijaga. Melalui suara gaib, Sunan Kalijaga mengatakan akan datang masa kehancuran Jogja dan awal runtuhnya Jawa alias wiwit bubrah tanah Jawi, dalam tiga tahun ke depan.
Diponegoro kemudian diperintahkan mengubah nama religiusnya dari Ngabdulrahim menjadi Ngabdulkamit dan dikatakan juga, suatu tanda akan diberikan kepadanya dalam bentuk sebuah anak panah bernama Sarutomo. Panah itu segera tampak olehnya seperti suatu kilatan cahaya yang menembus batu tempatnya tidur. 

Nah, Sunan Kalijaga dan Ratu Pantai Selatan yakni Nyi Roro Kidul memang merupakan mitos dalam pikiran orang Jawa ketika membahas soal kekuasaan. Hebatnya lagi, ada juga kisah lain di mana Ratu Kidul berjanji akan membantu Pangeran Diponegoro mengalahkan bendara dalam Perang Jawa.

Kala itu Pangeran Diponegoro beserta dan pengikutnya tengah berkemah di Kamal, di tepi suatu cabang Kali Progo, kira-kira pada pertengahan Juli 1826. Saat itu Ratu Kidul datang menemui sembari berjanji akan membantu Pangeran Diponegoro melenyapkan orang-orang Belanda asalkan sang pangeran meminta kepada Allah agar Ratu Kidul bisa menjadi manusia lagi.

Sayangnya, permohonan itu ditolak oleh Pangeran Diponegoro Permohonan. Carey menuliskan: Pangeran Diponegoro menolak dengan menyebutkan bahwa pertolongan hanya datang dari Sang Maha Kuasa.

”Dengan segala kecantikan dan kekuatan magisnya, Ratu Pantai Selatan adalah sosok yang sangat tragis. Ia sangat membutuhkan bantuan doa, meski pada saat yang sama ia juga mampu menolong orang lain,’’ sebut Carey seraya menyebut bahwa Pangeran Diponegoro ingin menempatkan dirinya sejajar dengan Sultan Agung dalam rangka olah batin maupun kekuatan nyata selama Perang Jawa. Namun di lain pihak, Pangeran Diponegoro juga mengedepankan tujuannya untuk mengangkat keluhuran agama Islam di seluruh tanah Jawa dengan menolak permintaan itu dan menyerahkannya kepada Tuhan sebagai Muslim taat penganut tarekat Shattariyah.

“Di kemudian hari, sikapnya yang dianggap terlalu Kejawen ini dipermasalahkan, hingga menyebabkan hengkangnya Kiai Mojo dari barisan panglima-ulama pendukung utama Laskar Diponegoro,’’ ungkap Carey.

       Keterangan foto: Ki Sabdo di MPR (sumber foto Youtube)

Jadi itulah kisah sosok Sunan Kalijaga dan Nyi Roro Kidul. Maka tak usah heran bila kini menjelang pelantikan presiden di Gedung MPR Senayan nama ratu itu dipanggil-panggil lagi oleh seseorang bernama Ki Sabdo yang berasal Jawa untuk mengamankan pelantikan seorang penguasa. Mitos itu masih hidup hingga kini meski terbukti tak mampu melenyapkan Jawa terbebas dari penghisapan kolonial Belanda  yang menurut WS Rendra menjajahnya secara ilmiah dengan memakai sosiologi dan antropologi.

Katanya: Belanda itu dahulu menjajah Jawa tidak hanya dengan senjata dan tentara!

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA