Senin 14 Oct 2019 22:11 WIB

Rahasia di Balik Tangisan Derai Air Mata Menurut Islam

Tangisan karena dosa-dosa diikuti taubat sangat dianjurkan.

Seorang siswa peserta pesantren Ramadhan menangis saat malam Muhasabah di Masjid Mukhlisun Bunga Tanjung, Lubuk Buaya, Padang, Sumbar, (Ilustrasi)
Foto: ANTARA
Seorang siswa peserta pesantren Ramadhan menangis saat malam Muhasabah di Masjid Mukhlisun Bunga Tanjung, Lubuk Buaya, Padang, Sumbar, (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof KH Nasaruddin Umar*  

Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabai berbeda de ngan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Baca Juga

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabai ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin atau racun. 

Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhan nya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa-masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal itu sesuai dengan hadis Nabi, bahwa ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi, mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu ber derai.

Tuhan memuji orang menangis. Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS al-Isra' [17]:109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan. "Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu."

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang-orang di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan. Jika meninggal dunia, ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.

Tampaknya, kita perlu membayangkan ketika nanti meninggal dunia, apakah akan lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau de ngan tawa kegembiraan. 

Jika air mata kerinduan terha dap Tuhan tidak pernah lagi ter urai, apalagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, kita perlu segera melaku kan introspeksi, apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan surga atau neraka. 

*) Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta

 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement