Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kualitas Iman

Rabu 14 Aug 2019 03:03 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, Rasulullah: muliakanlah tamu.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Feri Nugraha

Satu di antara akhlak yang Rasulullah contohkan adalah menghormati dan memuliakan tamu yang datang ke rumah kita. Ya, menghormati tamu adalah satu di antara akhlak mulia orang beriman. Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, kata Rasulullah, maka muliakanlah tamu.

Dahulu dikisahkan ada sepasang turis suami istri yang bepergian ke Turki. Pasangan ini ternyata tersesat hingga ke desa yang jauh dari keramaian. Setelah lelah dalam ketersesatannya, pasangan suami istri tersebut bertanya kepada seseorang tentang lokasi hotel terdekat. Orang yang ditanya hanya tersenyum dan mengatakan, di daerahnya tentu saja tidak ada hotel karena di desa.

Akhirnya, orang yang ditanya itu mempersilakan suami istri yang kebingunan tersebut menginap di rumah miliknya. Karena, memang tidak ada alternatif tempat menginap, suami istri ini bermalamlah di rumah warga desa yang sederhana tersebut.

Warga desa yang baik hati ini mempersilahkan mereka tidur. Sementara itu, dirinya sendiri dengan keluarga kecilnya akan tidur di ruangan lain. Tidak satu rumah dengan sang tamu. Karena memang sudah lelah, sang tamu mengiyakan saja ketika sang tuan rumah mengatakan hal tersebut.

Setelah tidur dan istirahat semalaman, pagi hari suami istri ini keluar mencari tuan rumah untuk mengucapkan terima kasih. Namun, mereka tidak menemukan bangunan apa-apa di luar rumah sederhana itu.

Ternyata, keluarga Muslim yang baik hatinya itu bersama anak istrinya tidur di bawah pohon dekat rumahnya. Sementara itu, sang tamu tidur di dalam rumahnya dan dilayani dengan baik. Betapa kaget sang tamu mendapati tuan rumah yang rela mempersilakan tamu menginap di rumahnya.

"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu gila?" tanya sang tamu. "Tidak. Aku tidak gila. Namun, kamu adalah musafir. Dan, aku harus memberimu apa yang kupunya karena aku seorang Muslim," jawab sang tuan rumah dengan senyum

Dia masih dalam keterkejutannya. Istrinya malah menangis. Mereka kagum dengan perlakuan Muslim yang baru ditemuinya tersebut. Merasa kagum dengan akhlak Muslim itu, tamu asing itu pun belajar tentang Islam. Diceritakan, hidayah Allah datang kepada mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Tidak perlu tampilan pakaian mewah atau harta banyak untuk membuat orang kagum kepada Islam, tetapi cukup dengan akhlak yang mulia—sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan, yaitu memuliakan tamu. Maka, pantaslah kalau memuliakan tamu dikaitkan dengan keimanan seseorang terhadap Allah dan Hari Akhir karena perbuatan ini erat kaitannya dengan kualitas iman.

Muliakan tamu sesuai dengan kemampuan kita, Allah akan memuliakan kita dengan kemuliaan yang lebih hakiki. Bertamulah kita kepada orang lain dengan baik, kemuliaan itu juga akan datang kepada kita. Antara memuliakan tamu dan adab kita bertamu, sejatinya dua hal yang harus menjadi ladang amal dan menjadi pegangan bagaimana kita berakhlak kepada sesama manusia.Wallahualam bishshawab. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA