Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Berdakwah Melalui Gerakan Subuh Keliling

Ustaz Uti Konsen 'Mentahajudkan' Ketapang

Ahad 31 Dec 2017 13:21 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto

Shalat Subuh berjamaah (Ilustrasi)

Shalat Subuh berjamaah (Ilustrasi)

Foto: mgrol86

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk, dengan mengajak dan menginisiasi adanya kegiatan shalat Subuh berjamaah. Adalah Ustaz Uti Konsen, orang yang menggagas garakan Subuh Keliling (Suling) di kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 17 tahun yang lalu.

Gerakan Suling didirikan pada 2002. Ustad Uti mengatakan, visi misi dari gerakan itu adalah mentahajudkan Kabupaten Ketapang dan me'ramadhan'kan seluruh bulan. Dalam hal ini, kegiatan warga di sana menjadi layaknya bulan Ramadhan. Karena masyarakat secara rutin melaksanakan shalat Subuh berjamaah dan shalat Tahajud berjamaah.

Kegiatan Suling dilakukan dari masjid ke masjid setiap hari secara rutin. Umumnya, masjid tertentu meminta hari apa mereka menggelar kegiatan Suling. Kegiatan Suling ini diawali dengan shalat Subuh berjamaah, kemudian dilanjut ceramah yanng diberikan ustad selama 15 menit.

Penceramah akan dilakukan bergantian. Bahkan, Ustaz Uti mengatakan, hingga kini penceramah tersebut bersedia memberikan tausiyah tanpa dibayar.Tidak hanya itu, tidak sedikit penceramah yang mengajukan permintaan untuk tampil di kegiatan Suling. Namun, dia menegaskan, isi dari ceramah tidak boleh berbicara terkait politik praktis dan hanya murni terkait keagamaan.

Tidak hanya sebagai kegiatan ibadah, kegiatan Suling diadakan dalam rangka menjalin ukhuwah atau silaturahmi dalam masyarakat Islam Ketapang. Di samping itu, kegiatan ini juga mengajarkan nilai kebaikan dalam bermasyarakat, seperti saling bersedekah dan senang menjamu.

"Alhamdulillah, sudah berlangsung 17 tahun itu tidak ada masalah. Kemudian, semangat orang untuk bersedekah juga luar biasa. Alhamdulillah, warga Ketapang yang mengikuti Suling semakin bertambah tahun ini. Apalagi dengan adanya kasus-kasus nasional yang mencuat, umat Islam menjadi semakin termotivasi," kata Ustad Uti, saat dihubungi Republika.co.id, Sabtu (30/12).

Dalam kegiatan Suling, biasanya setiap masjid atau surau mengadakan jamuan snack. Namun, ustaz Uti mengatakan, jamuan makanan itu tidak boleh menggunakan dana masjid. Melainkan, dana dari para donatur atau patungan warga yang mengikuti Suling.

Yang menarik dari kegiatan silaturahmi itu, menurutnya, adalah antuasiasme dari masyarakat untuk bersedekah yang sangat besar. Menurutnya, berbagai jenis makanan terkumpul banyak tanpa mengeluarkan dana khusus. Melainkan, dari jamuan para warga yang membawamakanan.

Ustaz Uti mengatakan, gerakan Suling juga telah menyebar ke beberapa wilayah lainnya. Di Barabai, ibukota Hulu Sungai Tengah, Kalimantan selatan, kegiatan Suling digelar sepekan sekali. Kemudian di Bangka Belitung juga pernah menggelar kegiatan Suling yang terinspirasi dari Ketapang. Adapula di Pontianak, kegiatan yang terinspirasi Suling bernama'sajadah fajar'.

Selain itu, jamaah Suling juga pernah diundang untuk ceramah dan mengenalkan gerakan Suling oleh Kerajaan Brunei Darussalam sekitar tiga bulan yang lalu. Selanjutnya, kata Ustaz Uti, dari Brunei sendiri akan melakukan kunjungan balasan ke Kabupaten Ketapang.

Ustaz Uti berharap, jika yang menggelar kegiatan Suling itu berasal dari umara (pemerintah). Namun demikian,hal itu menurutnya tidak mudah dan memiliki kelemahan. Karena seandainya pejabat pemerintah itu lengser bisa menimbulkan kebingungan dalam soal kepengurusan. Pasalnya, kegiatan Suling ini tidak memiliki kepengurusan ataupun rapat khusus. Kegiatan Suling sendiri dibahas pada saat silaturahmi berlangsung.

Selain Suling, Ustaz Uti mengatakan, di daerahnya juga kerap mengadakan kegiatan tahajud purnama yang digelar satu bulan sekali. Kegiatan itu berupa shalat tahajud berjamaah di lapangan terbuka yang dilakukan satu jam sebelum waktu subuh.

"Saat melaksanakan shalat tahajud tersebut, semua lampu dimatikan. Sehingga, suasana menjadi terasa lebih syahdu," tambahnya.

Untuk menajamkan pelaksanaan shalat tahajud, Ustaz Uti juga kerap menggelar acara silaturahim tahajud setiap Jumat malam di kediamannya. Silaturahmi itu digelar khusus membahas soal tahajud. Menurutnya, kegiatan itu bahkan kerap dihadiri oleh kapolres dan bupati Ketapang. Kegiatan silaturahim tahajud ini sudah berjalan selama enam tahun.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA