Jumat 17 Feb 2017 17:12 WIB

Gapura, Strategi Mubaligh Menyebarkan Dakwah Islam

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Kompleks Masjid Sunan Ampel, Surabaya.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Kompleks Masjid Sunan Ampel, Surabaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah lama gapura dikenal dalam arsitektur Islam. Konon, di masa lalu gapura berfungsi sebagai strategi para mubaligh dalam rangka berdakwah mengajak orang masuk Islam.

Orang-orang yang masuk dan telah melintasi gapura disimbolkan telah masuk Islam. Karena itu, gapura berada di pintu masuk sebuah bangunan.

Gapura sendiri dalam bahasa Arab disebut ghafara yang berarti mengampuni atau menutupi. Ini dapat pula diartikan bahwa orang-orang yang masuk melalui gapura telah mendapat keamanan dan perlindungan dari penguasa. Gapura bisa juga sebagai tanda atau pernyataan kehormatan bagi tamu yang datang.

Tidak sebatas ditempatkan pada pada sebuah bangunan, gapura bisa pula menjadi pintu gerbang perbatasan suatu kota, benteng, keraton, dan sebagainya. Situs wikipedia mengartikan, gapura adalah suatu struktur yang umumnya merupakan simbol pintu masuk ke suatu kawasan atau daerah. Gapura juga sering diartikan sebagai pintu gerbang.

Dalam bidang arsitektur, gapura sering disebut dengan entrance , namun entrance itu sendiri tidak bisa diartikan sebagai gapura. Simbol yang dimaksudkan di sini bisa juga diartikan sebuah ikon suatu wilayah atau area. Secara hirarki sebuah gapura bisa disebut sebagai ikon karena gapura itu lebih sering menjadi komponen pertama yang dilihat ketika memasuki suatu wilayah.

Dilihat dari sifatnya, gapura dapat dibuat secara permanen, namun dapat pula hanya untuk sementara. Gapura permanen umumnya terdapat di batas kota, pintu gerbang benteng, keraton, atau suatu monumen untuk memperingati seorang tokoh atau suatu peristiwa penting. Gapura permanen melambangkan pintu masuk yang kuat, seakan-akan menjamin keamanan kota, benteng, atau keraton.

Berbeda dengan gapura permanen, gapura sementara umumnya dibangun biasa untuk kepentingan sementara, terutama pada perayaan atau peringatan penting, misalnya peringatan hari kemerdekaan suatu negara. Gapura ini biasanya bercorak warna-warni, dihiasi bendera-bendera, kertas berwarna, daun-daunan, dan sebagainya.

Gapura yang dibuat sebagai tanda perayaan adat perkawinan atau khitanan umumnya dibuat dari bambu dan atau janur kelapa dan dipasang di ujung jalan tempat perayaan itu diadakan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement