REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Al-Ajurri dalam kitab Akhlak al- Ulama' secara khusus mengupas tentang moralitas ulama. Di tengah-tengah keprofanan masyarakat, sikap dan integritas ulama dipertaruhkan. Integritas ulama tak boleh tergadaikan dengan kekuatan kaum elitis, baik dari rezim pemerintah yang berkuasa maupun para pemegang kekuasaan seperti kaum bangsawan.
Jika moralitas tersebut diabaikan, sesungguhnya mereka telah mengenakan baju kehormatan ulama, tetapi akhlaknya seperti mereka yang tak berpendidikan. "Lidahnya lidah ulama, tapi tingkah lakunya perilaku orang bodoh," papar al- Ajurri.
Al-Ajurri mengingatkan agar para ulama terhindar dari fitnah yang menimpa seorang alim. Beberapa hadis yang menyinggung hal tersebut pun dinukil dalam kitabnya itu. Riwayat pertama yang disebutkan adalah riwayat Abdullah bin Umar.
(Baca: Ulama Sebagai Pewaris Para Nabi)
Disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah atau menginginkan tujuan selain (ridha) Allah, hendaknya dia mencari tempat duduknya di neraka."
Fenomena fitnah yang menimpa ulama telah diberitakan secara jelas oleh Rasulullah. Integritas moral yang mestinya dipertahankan oleh ulama berangsur-hilang. Bahkan, ulama akan kerap terlibat dengan masalah-masalah yang menggerus moralitas dan akhlak mereka.
Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik diberitakan, Rasulullah SAW bersabda, "Akan muncul di akhir zaman nanti para ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasik." Sebab itulah, hadis tersebut tampaknya disikapi serius oleh kalangan salaf.
(Baca Juga: Keutamaan Ulama)
Dalam sebuah pesannya, Sufyan ats-Tsauri pernah mengingatkan akan kemunculan fenomena itu. Kewaspadaan dan antisipasi penting dilakukan. Apa pasal? Tak lain karena dampak akibat fitnah yang menimpa ulama akan berimbas pada umat secara keseluruhan. "Maka dari itu, berlindunglah kalian dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasik. Karena fitnah keduanya berimbas kepada semua lapisan," seru al-Ajurri.




