REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai ancaman serius pasca kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar, termasuk konspirasi pembunuhan yang dirancang secara rahasia oleh para pemuka Quraisy di Makkah. Di tengah situasi genting itu, ketegangan juga dirasakan Umar bin Khattab saat menyadari kedatangan seorang musuh dengan niat mencurigakan ke Madinah. Kisah ini tidak hanya menggambarkan besarnya ancaman terhadap Rasulullah, tetapi juga memperlihatkan kewaspadaan para sahabat serta bukti kebenaran kenabian yang pada akhirnya justru meluluhkan hati pelaku konspirasi tersebut.
Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Sirah Nabawiyah mengisahkan, akibat kekalahan yang diderita orang-orang musyrik dalam Perang Badar, mereka semakin dibakar kebencian terhadap Nabi Muhammad SAW dan menjadikan Makkah mendidih layaknya periuk. Tidak heran jika kemudian para pemukanya bersekongkol untuk membunuh orang yang menjadi sumber malapetaka, perpecahan, kehancuran dan kehinaan mereka, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Tidak lama sesudah Perang Badar, Umair bin Wahb Al Jumahi duduk-duduk di Hijir bersama Shafwan bin Umayyah. Umair adalah salah seorang pemimpin Quraisy yang dulu sering menyiksa Nabi dan para sahabat ketika masih tinggal di Makkah. Anak Umair yakni Wahb bin Umair menjadi tawanan Perang Badar.
Saat duduk itulah Umair menyebut orang-orang yang menjadi korban di Perang Badar dan mereka yang dimasukkan ke dalam sumur. Shafwan berkata menghibur, "Demi Allah, pasti akan datang kehidupan yang baik setelah kematian mereka."
Shafwan kemudian mengobarkan semangat Umair dengan berkata, "Aku akan menanggung hutang-hutangmu. Aku akan melunasinya, dan keluargamu adalah keluargaku juga. Aku akan menjaga selagi mereka masih hidup. Aku sama sekali tidak keberatan melindungi mereka."




