Ahad 22 Feb 2015 14:24 WIB

Budaya Baca dan Keilmuan Umat Islam Masih Rendah

Rep: Yulianingsih/ Red: Agung Sasongko
Mualaf tengah membaca literatur Islam/ilustrasi
Foto: onislam.net
Mualaf tengah membaca literatur Islam/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Setelah melewati beberapa tahap yang sulit dalam perjalananya, Suara Muhammadiyah mulai tumbuh dan berkembang di era 1990-an  dan hingga usia satu abad ini, majalah dua mingguan tersebut sudah memiliki tiras yang mencapai 40 ribu eksemplar naik 300  persen dari terbitan 1980-an yang hanya beroplah 8 ribuan eksemplar dan 12 ribuan eksemplar di 1995an.

Secara peredaran,  majalah dua mingguan Muhammadiyah ini kini bukan hanya tersebar di Indonesia saja namun sudah tersebar ke beberapa negara di  dunia seperti Malaysia, Brunei, Cina bahkan ke daratan Eropa. Dari sisi rubrikasi majalah ini juga semakin variatif meskipun ada beberapa rubrik yang tetap dipertahankan sebagai cirikhas majalah ini.

Rubrik tersebut adalah tafsir atau tuntunan agama, tanya jawab agama, sirah hadist, dan tulisan PP Muhammadiyah sebagai pedoman warga Muhammadiyah. Dalam perkembangannya, Suara Muhammadiyah bukan hanya menjadi sebuah badan usaha milik persyarikatan yang hanya menerbitkan  majalah saja.

Saat ini Suara Muhammadiyah sudah menjadi badan usaha yang berkembang cukup pesat. Selain majalah Suara

Muhammadiyah sendiri, perusahaan ini juga menerbitkan majalah Al Mannar, toko, dan penerbitan. Bahkan dari sisi aset, Suara  Muhammadiyah sudah memiliki tiga gedung baru di sekitar kantor pusatnya di Jalan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Dari sisi pengembangan mulai tahun ini Suara Muhammadiyah juga akan masuk sebagai media digital. Majalah ini bisa diakses oleh masyarakat umum baik di dalam maupun luar negeri melalui sarana internet.  Meski mengalami perkembangan yang signifikan dan terbukti mampu bertahan hingga seabad.

Namun bukan berarti majalah ini tidak menghadapi kendala ke depannya. Budaya baca dan membeli keilmuan yang masih cukup rendah di Indonesia ditengah tingginya sikap konsumerisme menjadi kendala terberat bagi pengembangan majalah milik persyarikatan ini.

Selain itu banyaknya bermunculan media elektronik dan sosial media juga menjadi kendala tersendiri bagi majalah ini dalam hal kemasan isu yang  akan dibahas. "Karena itulah isu yang kita kembangkan adalah isu yang kontekstual sehingga semua edisi terbitan Suara  Muhammadiyah akan selalu pantas dibaca kapan saja dan dibutuhkan," katanya.

Ketua PP Muhammadiyah yang juga penasehat ahli Suara Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, hingga usianya yang 100 tahun  ini Suara Muhammadiyah bisa tampil sebagai corong Muhammadiyah baik secara pemikiran maupun pandangan organisasi secara  keseluruhan.

"Suara Muhammadiyah sudah mampu menjadi corong Muhammadiyah bukan hanya bagi warga Muhammadiyah saja tetapi  untuk masyarakat secara luas," katanya.

Dalam perkembangannya, Suara Muhammadiyah bukan hanya menyalurkan informasi terkait organisasi Muhammadiyah semata, namun  beberapa informasi diluar Muhammadiyah juga mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Itu artinya Suara Muhammadiyah bukan hanya bisa memberikan warna secara organisasi tetapi juga memberikan manfaat secara luas bagi bangsa  dan negara. Ini yang harus dipikirkan untuk terus diperluas ke depannya," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement