Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Perhatian Islam pada Sektor Perhotelan (7)

Rabu 20 Feb 2019 18:13 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Petugas house keeping membersihkan salah satu kamar di Hotel Syariah Sofyan Inn Tebet, Jakarta, Selasa (11/7).

Petugas house keeping membersihkan salah satu kamar di Hotel Syariah Sofyan Inn Tebet, Jakarta, Selasa (11/7).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Setiap pengunjung dari luar negeri sudah diwajibkan untuk bawa dokumen resmi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam perkembangan berikutnya, para mustamin (pedagang asing yang singgah) tidak begitu mengandalkan lantai pertama magazine sebagai tempat menginap. Mereka memilih funduq yang lebih nyaman dan mudah ditemui pada kota-kota besar di wilayah Islam.

Baca juga: Perhatian Islam pada Sektor Perhotelan (6)

Baca Juga

Funduq adalah cikal-bakal hotel modern. Akan tetapi, awal mulanya tidak asli dari Arab, melainkan kebudayaan dua adidaya pada abad keenam, yakni Byzantium dan Persia.

Raja-raja Muslim sejak era Umayyah mengadopsi beberapa sistem tata kota mereka, termasuk eksistensi tempat penginapan yang lantas diistilahkan dalam bahasa Arab: funduq. Kata itu merupakan pengembangan lebih lanjut dari bahasa Latin pandocheion atau bahasa Ibrani pundaq yang berarti ‘asrama’.

Berbeda dengan, umpamanya, Suffah Masjid Nabawi, kamar-kamar funduq disewakan kepada para pelanggan. Seorang pemilik funduq akan menugaskan bawahannya untuk mengelola bangunan itu sehari-hari. Dia bertugas merawat kebersihan kamar serta menjamin kenyamanan dan keamanan penghuni.

Menurut perspektif penguasa, funduq merupakan solusi untuk menunjukkan keramahtamahan (hospitality) terhadap orang-orang asing. Bagaimanapun, hukum tetap ditegakkan bagi mereka yang nekad melakukan spionase.

Bila ada penghuni yang dicurigai sebagai mata-mata, aparat keamanan langsung meringkusnya beserta barang bukti dari funduq tempatnya menginap. Maka dari itu, setiap orang asing diimbau untuk membawa surat yang memuat cap resmi penguasa daerah asal, sehingga jelas tujuannya singgah—apakah hendak berdagang, belajar, atau lain-lain.

Sejak abad kedelapan, dinasti-dinasti Muslim telah memberlakukan aturan demikian, yang kini tampaknya menyerupai mekanisme paspor.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA