Senin , 07 August 2017, 04:00 WIB

Menjaga Keikhlasan Guru

Red: Agung Sasongko
Republika
Ilustrasi guru agama.
Ilustrasi guru agama.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Oleh: Asep Sapaat


Banyak guru tak ingin ditimpa kesusahan. Padahal, tak sedikit guru yang hidupnya berhasil karena sabar menjalani hidup susah. Setiap guru bisa jadi punya sudut pandang berbeda tentang makna hidup susah.

Saya kerap menjumpai guru di pelosok daerah yang hidupnya susah. Ukuran susahnya karena guru tersebut belum berstatus guru pegawai negeri sipil (PNS). Ada dua sikap berbeda dari guru yang hidup susah, mengeluh atau tetap ikhlas berbuat kebajikan. Yang mengeluh, hidupnya tak beranjak dari satu kesusahan ke kesusahan lainnya. Yang ikhlas mengajar dan mendidik, mereka kerap mengalami kejadian yang di luar nalar.

Contohnya, ada seorang bapak guru yang mengabdi di Biak (Papua). Beliau sudah lebih dari 20 tahun menjadi guru honorer. Hidupnya dijalani dengan penuh perjuangan. Dengan seorang istri dan tiga anak, uang gajinya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan, kerap mengalami kekurangan. Tetapi, keluarga mereka bahagia. Berapa pun rezeki yang didapatkan, mereka cukupkan. Kehidupan keluarganya berjalan harmonis. Anak-anaknya tumbuh menjadi anak pintar dan saleh. Sambil berkaca-kaca, beliau mengutarakan perasaan bahagia dan bersyukur karena ketiga anaknya bisa kuliah di perguruan tinggi negeri lewat beasiswa.

Saat beliau bercerita ihwal perjuangan hidupnya sebagai guru, tak ada sedikit pun tersirat rona kesedihan. Saat hidup susah, beliau dan keluarganya tak banyak mengeluh. Sebaliknya, beliau malah tetap menjaga niat, keikhlasan, serta semangat dalam mengajar dan mendidik para siswanya. Di saat yang sama, ketaatannya kepada Allah SWT tak pernah berkurang, bahkan makin dekat dengan Allah SWT. Hal itu yang menyebabkan dirinya tak pernah resah dengan status dirinya yang bukan guru PNS.

Dalam buku Cara Berpikir Suprarasional (Republika Penerbit, 2013) karya Raden Ridwan Hasan Saputra, bapak guru ini layak disebut guru suprarasional. Ketika menghadapi masalah yang sangat sulit, guru suprarasional menjadikan Allah SWT sebagai faktor yang sangat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atau tindakan dalam hidupnya. Guru dengan cara berpikir suprarasional selalu menggantungkan harapan dan doanya kepada Allah SWT dalam ikhtiar memecahkan kesulitan hidup.

Guru suprarasional paham makna merencanakan kesusahan. Di tengah himpitan kesulitan hidup, dia memilih tetap menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Bahkan, dia melakukan hal-hal lain di luar tanggung jawab. Misal, memberikan bimbingan belajar gratis kepada siswa yang lemah pemahamannyaa.

Dengan menjaga keikhlasan, kesusahan akan mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka. Anak yang saleh tak bisa dibeli dengan uang. Bagaimana mungkin pula gaji seorang guru honorer bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi? Rezeki tak diduga adalah hasilkombinasi ikhtiar merenca nakan kesusahan dan menjaga keikhlasan. Atas izin Allah SWT, kesusahan membawa kenikmatan. Wallahu a'lam bishawab.

Berita Terkait