Ahad 02 Aug 2026 14:00 WIB

Apakah Opsi Militer Gagal Mematahkan Sikap Iran?

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Arak-arakan peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei di Kota Qom, Iran seusai dishalatkan di Masjid Jamkaran, pada Selasa (7/7/2026).
Foto: REPUBLIKA/Andri Saubani
Arak-arakan peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei di Kota Qom, Iran seusai dishalatkan di Masjid Jamkaran, pada Selasa (7/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN-Sejumlah pakar dan diplomat yang diwawancarai Aljazeera sepakat bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran belum mampu menghasilkan perubahan yang menentukan dalam arah konflik.

Baik Washington maupun Teheran kini dinilai semakin memahami batas-batas kekuatan militer masing-masing, sehingga kembalinya jalur diplomasi melalui perantara negara-negara kawasan menjadi skenario yang paling mungkin terjadi.

Baca Juga

Sebagian pengamat menilai Iran masih memiliki sejumlah kartu strategis yang dapat digunakan sebagai alat tekanan, terutama kendalinya atas Selat Hormuz.

Sementara itu, pihak lain berpendapat bahwa persoalan utama tidak semata-mata terletak pada keseimbangan kekuatan militer, tetapi juga pada krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua negara.

Karena itu, keberhasilan setiap upaya perundingan akan sangat bergantung pada adanya jaminan politik dan dukungan regional.

Mereka juga mengingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepahaman terkait keamanan jalur pelayaran internasional dapat memicu eskalasi baru dalam waktu dekat.

Diplomat Amerika Serikat yang pernah bertugas di kawasan, Joey Hood, mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan udara yang sangat besar dibanding Iran.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar serangan udara berhasil mencapai target yang ditentukan.

Namun, menurutnya, keunggulan militer itu tidak berarti bahwa opsi militer mampu mengakhiri krisis secara tuntas.

Ia menilai kedua pihak kini semakin menyadari keterbatasan kemampuan militernya masing-masing. 

Berita Lainnya

Rekomendasi