Ahad 04 Oct 2026 13:23 WIB

Komisi VIII DPR dan UIN Raden Mas Said Dorong Pendidikan Inklusif di Madrasah

Tantangan pendidikan madrasah semakin kompleks.

Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang digelar di Klaten, Jawa Tengah, Ahad (4/10/2026).
Foto: Dok Istimewa
Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang digelar di Klaten, Jawa Tengah, Ahad (4/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, KLATEN— Komisi VIII DPR RI bersama Kementerian Agama (Kemenag) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta mendorong penguatan pendidikan inklusif di lingkungan madrasah.

Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang digelar di Klaten, Jawa Tengah, Ahad (4/10/2026).

Baca Juga

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko mengatakan, madrasah menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

Selain persoalan pendidikan inklusif, madrasah juga dihadapkan pada perkembangan teknologi, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga persoalan perundungan di lingkungan pendidikan.

“Pendidikan di lingkungan Kemenag seperti halnya pendidikan umum lainnya,” kata dia.

Dia mengatakan, madrasah menghadapi permasalahan terkait pendidikan inklusif, tantangan dalam penggunaan aplikasi kecerdasan buatan, hingga praktik perundungan di sekolah.

“Fenomena ini menuntut peningkatan kapasitas para guru dan pemangku kepentingan pendidikan,” ujar Singgih.

Menurut Singgih, berbagai tantangan tersebut harus direspons melalui peningkatan mutu layanan pendidikan, pemerataan akses, penguatan karakter berbasis nilai keagamaan, serta peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Dia menegaskan, tujuan pendidikan di lingkungan Kemenag harus tetap selaras dengan tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

“Ringkasnya, tujuan pendidikan di lingkungan Kemenag adalah membentuk manusia seutuhnya atau insan kamil yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial,” kata Singgih.

Dalam konteks pendidikan inklusif, Singgih mendorong madrasah menciptakan lingkungan belajar yang membuat setiap anak merasa diterima dan dihargai.

Menurutnya, pendidik harus memiliki kepekaan terhadap kebutuhan setiap peserta didik, termasuk anak penyandang disabilitas.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi