REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga kini tampaknya memilih untuk tidak kembali melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Sikap ini cukup menarik perhatian, terutama di tengah serangan yang dilakukan kelompok tersebut terhadap Arab Saudi serta ancaman mereka terhadap pelayaran dan perdagangan di Laut Merah.
Namun, Nahathal Tosi, koresponden senior urusan luar negeri di situs berita Amerika Serikat, Politico, dikutip dari Aljazeera, menilai sikap hati-hati tersebut memiliki sejumlah alasan praktis, militer, dan politik.
Faktor-faktor itu dapat menjelaskan mengapa Washington enggan membuka front baru melawan Houthi.
Meski demikian, Tosi mengingatkan bahwa sikap Trump belum tentu bersifat permanen. Trump dikenal kerap mengubah kebijakannya secara tiba-tiba.
Salah satu alasan utama adalah Trump saat ini sudah menghadapi front yang sangat kompleks dengan Iran.
Menurut Tosi, perang dengan Teheran belum benar-benar berakhir. Karena itu, membuka konfrontasi baru dengan Houthi—yang mendapat dukungan dan persenjataan dari Iran—berpotensi memperluas cakupan konflik pada saat perang dengan Iran sendiri masih belum menemukan penyelesaian.
Artikel tersebut mengutip mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Yaman, Tim Lenderking, yang menilai wajar jika Trump tidak ingin membuka front lain untuk saat ini.