REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Banyak orang bertanya mengapa mereka yang tekun beribadah justru kerap menghadapi berbagai ujian dan musibah. Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT. Bahkan, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin berat pula ujian yang akan dihadapinya. Karena itu, kesabaran menjadi bekal utama agar seorang mukmin dapat menjaga ibadahnya dan mencapai hakikat penghambaan kepada Allah SWT.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa setiap bentuk ibadah dan ketaatan itu sendiri mengandung berbagai kesukaran, tidak ada ibadah yang dilakukan tanpa menekan hawa nafsu. Sebab hawa nafsu itu senantiasa berusaha mencegah seseorang manusia beribadah dan taat kepada Allah. Menjadi tugas paling sulit seorang ahli ibadah untuk mengontrol hawa nafsu tersebut.
Setelah mengerjakan kebaikan dengan bersusah payah, seorang hamba harus berhati-hati menjaganya agar ibadahnya itu tidak rusak. Sebab konsisten dan menjaga satu amal ibadah itu jauh lebih sulit daripada mengerjakan pada kali pertama.
Dunia ini merupakan tempat ujian, maka siapa saja yang berada di dalamnya pasti akan mendapatkan ujian dengan berbagai kesulitan dan musibah. Misalnya musibah kematian pada keluarga, saudara, kerabat dan para sahabat kita juga.
Ada juga musibah yang bisa menimpa diri sendiri seperti penyakit dan kelaparan. Bisa juga musibah terhadap kehormatan kita misalnya dibunuh, disakiti, dihinakan, dijadikan sasaran, diceritakan kejelekannya dan dibohongi.
Ada juga musibah kehilangan dan bangkrut terhadap harta yang kita miliki. Seseorang mungkin merasa sangat terpukul dan sedih dengan salah satu jenis musibah, tapi tidak terlalu sedih dengan musibah lainnya.
Apapun yang terjadi diperlukan kesabaran dalam menghadapi semua jenis musibah yang menimpa kita. Kalau kita tidak mampu bersabar maka kesedihan yang berlarut-larut itu akan mengganggu konsentrasi kita dalam beribadah.
Orang-orang yang lebih memilih akhirat daripada dunia itu akan mengalami cobaan yang lebih parah dan lebih banyak. Semakin ia dekat kepada Allah, maka semua musibah dan ujian dunia akan lebih banyak dan lebih keras menerpanya.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian para ulama, kemudian orang yang terbaik dan kemudian orang yang terbaik di bawahnya."
Imam Al-Ghazali menerangkan, untuk mengatasi kendala dalam beribadah yang disebabkan oleh musibah dan kesulitan hidup, cukup dengan bersabar. Bersabarlah dengan semua ikhwal kehidupan.
Pentingnya bersabar agar sampai kepada hakikat dan tujuan ibadah. Sebab pondasi dari ibadah adalah kesabaran dan tahan terhadap berbagai kesulitan hidup. Siapa saja yang tidak dapat atau tidak mampu bersabar maka tidak akan sampai kepada hakikat dan tujuan ibadahnya, sebab orang yang beribadah kepada Allah Ta'ala pasti menghadapi berbagai kesulitan ujian dan musibah.