REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai akan mengubah cara belajar, bekerja, berdagang hingga berdakwah. Pesantren didorong mulai mengenalkan literasi AI kepada santri sejak dini agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Hal itu disampaikan Gus Ipang Wahid dalam kegiatan PMKNU Cirebon. Dalam forum yang sama, KH Imam Jazuli dan Gus Miftah menekankan pentingnya pesantren beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar pendidikan keislaman.
Gus Ipang mengatakan, pesantren memiliki potensi besar melahirkan generasi muda yang kuat secara nilai dan karakter sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Kita tidak akan kalah dari AI. Tapi kita akan kalah oleh orang yang mengerti AI,” ujar Gus Ipang dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Gus Ipang, peran pesantren ke depan tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat melahirkan content creator, editor, digital marketer, programmer hingga entrepreneur muda berbasis nilai pesantren.
Ia menilai kemampuan memahami dan menggunakan AI perlu mulai dikenalkan kepada santri, termasuk teknik prompting atau cara memberi instruksi kepada AI agar menghasilkan output optimal.
“Prompting itu bukan sekadar mengetik pertanyaan. Di situ ada logika berpikir, kreativitas, cara menyusun ide, sampai kemampuan problem solving,” kata Gus Ipang.
Gus Ipang menegaskan penguasaan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas pesantren. Teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat dakwah, pendidikan, ekonomi, serta kontribusi sosial pesantren di era digital.
Melalui PMKNU, kader muda Nahdlatul Ulama didorong memiliki wawasan luas terhadap perubahan zaman sekaligus mampu menjembatani tradisi pesantren dengan perkembangan teknologi modern secara bijak dan produktif.
“Ini sekaligus mampu menjembatani tradisi pesantren dengan perkembangan teknologi modern secara bijak dan produktif,” ujar Gus Ipang.




