REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Tulisan “Es Puter” bercat merah masih terlihat mencolok di atas gerobak kecil milik Ili (62 tahun) yang warnanya mulai kusam. Gerobak itu ditopang sepeda motor yang sudah renta.
Gerobak tersebut sedang terparkir di halaman rumah mungilnya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, Cirebon, Selasa (14/4/2026) siang. Dari gerobak sederhana itu, jalan menuju Baitullah perlahan dirintis oleh Ili, penjual es krim yang kini memasuki usia senja.
Siang itu, terik matahari menyelimuti halaman; seekor kucing rebah di lantai, sementara angin tipis menyusup di antara pintu dan jendela terbuka. Di dalam rumah, suasana terasa lebih hidup. Yayah (49), istri Ili, sibuk menata perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, sandal, ember kecil, hingga charger telepon genggam .
Rumah itu memang sempit, namun teduh; di sudut ruang, barang-barang tersusun seperti penanda bahwa penantian panjang kian mendekati muara. Ili datang ke Cirebon dari Ciamis dengan bekal seadanya, mengikuti kakaknya sambil mencari cara agar dapur tetap berasap. Sebagai perantau “wong cilik”, ia bertahan lewat es mung-mung, jajanan tradisional pesisir yang akrab di lidah warga.
View this post on Instagram
Jajanan tersebut dibuat dari santan, gula, dan tepung, lalu diputar manual dalam tabung berisi es batu dan garam hingga membeku. Rasanya gurih manis, membekas di lidah siapa pun yang mencicipinya.
Harganya terjangkau, sekitar Rp2.000–Rp5.000 per porsi. Anak-anak hingga orang dewasa mengenali bunyi bel kecil dari gerobak Ili yang saban siang melintas. Setiap pagi, ili menyusuri gang dan berhenti di sekitar sekolah. Salah satunya SD Kartini, tempat sebuah niat besar tumbuh tanpa aba-aba, lalu menetap dalam dada.
Ia mengenang momen sekitar 2005, saat berjualan dan melihat rombongan calon haji melintas di depan sekolah. Pakaian putih dan wajah penuh harap itu membuat hatinya bergetar.
“Ya saya lihat rombongan haji, saya ingin juga seperti orang lain, ingin ke Baitullah,” ujar Ili, lirih saat berbincang dengan ANTARA.