Jumat 17 Apr 2026 13:40 WIB

Empat Karakter Orang Baik

Seringkali kita terpesona oleh yang dianggap orang baik.

Peserta menata topeng di Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (1/6/2023). (ilustrasi)
Foto: ANTARAFOTO/Maulana Surya
Peserta menata topeng di Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (1/6/2023). (ilustrasi)

Oleh Dr Hasan Basri Tanjung, Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Syawal sudah dipenghujung, suasana Ramadhan dan lebaran Idul Fitri pun mulai redup dalam keseharian. Upaya menjaga nilai dan pesan bulan suci terus dilakukan, meskipun kadang terhempas oleh keadaan dan godaan duniawi yang memesona. Namun demikian, segala ikhtiar dan doa harus tetap dilakukan agar bekas dan kesan yang sempat mengisi ruang kalbu tetap tumbuh dan kembang dalam perilaku yang baik.

Jika nilai-nilai taqwa, syukur dan benar yang menjadi profil lulusan Madrasah Ramadhan dirawat dan pupuk, maka akan lahir orang-orang baik (muhsinin).

Seringkali kita terpesona oleh yang dianggap ”orang baik”. Kita tertipu oleh kebaikan atau keindahan verbal yakni ucapan dan kata-kata yang melukai bahkan menyihir sehingga hilang nalar sehat untuk mengkritisinya. Juga, kesantunan dan keindahan non-verbal, baik dalam bentuk asesoris pakaian yang identik dengan kesalehan seperti model pakaian, kopiah, serban dan sebagiannya, atau fisik seperti jidat yang hitam karena dinilai banyak sujud, jenggot yang panjang karena dinilai mengikuti sunnah rasul dan seterusnya.

Fakta yang tak bisa dipungkiri, bahkan penulis pun pernah tertipu oleh orang-orang yang dinilai baik karena rajin shalat berjamaah, ucapan lembut, pakaian rapi dan sikap yang santun. Apalagi penipuan travel haji dan umrah yang sudah bolak balik ke tanah suci dan dipanggil ”ustaz atau kyai”, namun tega menelantarkan calon jamaah dan uangnya ditelan habis.

Oleh karena itu, perlu dikaji ulang siapa orang baik itu, agar kita tidak tertipu oleh ”Setan Berjubah” atau ”Musang Berbulu Domba”. Salah penilaian akibat rekayasa atau pencitraan yang memesona, telah menjadikan penjahat seakan penolong, koruptor seakan dermawan dan penipu seakan penyelamat.

Konon, seorang pemuda pernah mendatangi Sayyidina Umar Bin Khattab ra dan memberikan kesaksian bahwa si Fulan adalah pemuda yang jujur. Lalu Umar bertanya ’”Pernahkah engkau melakukan perjalanan dengannya”? Ia menjawab, ”Tidak”. ”Apakah engkau pernah berselisih dengannya”? Ia menjawab, ”Tidak”.

Apakah engkau pernah mempercayakan sesuatu kepadanya”? Ia menjawab, ”Tidak”. Umar ra berkata kepadanya, ”Maka engkau adalah orang yang tidak mengenal dia” (Khazanah Republika, 2021). Artinya, untuk menilai seseorang itu baik, setidaknya dengan tiga jalan yakni safar, berselisih dan muamalah (bisnis). Sebab melalui ketiga interaksi tersebut akan tampak sifat aslinya.

Dalam sebuah riwayat, Baginda Nabi Muhammad SAW. Berpesan bahwa ada tiga karakteristik orang-orang baik yang disebut dengan afdhal al-fadhaail (perilaku utama di atas yang utama) yakni:

Pertama, An Tashila man Qotho’aka (menyambung hubungan silaturahim dengan orang yang memutuskanmu). Jika kita memutuskan silaturahmi dengan saudara atau orang lain lalu kita sambung kembali, itu sikap benar yang semestinya. Jika orang lain memutuskan, lalu kita bertindak biasa seakan tidak terjadi sesuatu atau tidak membalas hal yang sama, itupun tindakan yang benar.

Akan tetapi, jika orang memutuskan lalu kita menyambungnya, padahal kita tidak membutuhkan sesuatu darinya, semata menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka itulah orang baik. Sebab, hanya orang baik tidak terikat atau berharap sesuatu, bahkan ia menyelamatkannya dari neraka (HR. Abu Daud).

Kedua, Tu’thiya ma Haromaka (memberi kepada orang yang tidak pernah memberimu). Jika memberi sesuatu kepada orang yang memberi kepada kita, maka itu orang benar. Sebab, semestinya kita membalas kebaikan seseorang sepadan atau lebih baik. Nabi SAW. Bersabda, ”Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” HR. Muslim).

Namun, jika memberi kepada orang yang tidak pernah memberi, (karena miskin atau bakhil), itulah tanda orang baik. Sebab, ia tidak mengharapkan sesuatu, walaupun orang tersebut berlaku buruk kepadanya. Oleh karenanya, menolong anak yatim dan miskin menjadi indikator kebaikan, karena kecil kemungkinan akan membalasnya.

Ketiga, Ta’fuwa ’Amman Dzolmaka (memaafkan orang yang mendzalimimu). Jika kita didzalimi dalam bentuk fisik atau psikis dan membalasnya, itu tindakan benar. Sebab, membalas setimpal perbuatan buruk sesuai dengan hukum qishash (QS. Al-Maidah[5]:45). Namun, jika perbuatan dzalim mereka dimaafkan dan tidak balas meskipun mampu membalas bahkan melebihi perbuatannya, maka itulah orang baik.

Sebab, ia ingin mendapat ridha Allah SWT. Nabi SAW. memaafkan kaum Quraish dahulu yang telah menyiksa dan mengusirnya hingga hijrah ke Madinah, namun ketika Fathul Makkah tahun ke -8 Hijriyah dengan 10.000 pasukan dapat merebut kota kelahirannya dengan damai, meskipun beliau mampu membalas dendam, tapi tidak melakukannya. Justru, dengan kemuliaan akhlak beliau itulah menyebabkan kaum quraisy berduyun-duyun masuk Islam, sebagaimana jauh sebelumnya dikabarkan dalam surah An-Nasr.

Keempat, Yashfahu (melapangkan dada). Perintah memaafkan dan melapangkan dada ditemukan pada surah An-Nuur ayat 24. Keduanya serangkai namun bertingkat sesuai dengan kesanggupan jiwa. Prof Quraish Shihab daalm buku ”Membumikan Al-Quran”, mengatakan bahwa ”ash-Shafwu” (melapangkan dada) lebih tinggi dari ”al-afwu” (memaafkan). Jika al-afwu itu menghapus dan masih ada bekasnya, maka ash-shafwu mengganti dengan lembaran baru (bersih).

Orang yang memaafkan belum tentu bisa melupakan dan bekerja sama karena kejadian masa lalu yang menyakitkan. Seperti Nabi SAW. sudah memaafkan Al-Wahsyi yang membunuh pamannya Hamzah ra di perang Uhud, namun tak dapat melupakannya. Sementara jika sudah melapangkan dada, maka kembali merajut ikatan seperti Abu Bakar ra atas Misthah (kerabat yang tinggal dan ditanggung di rumahnya) namun turut menyebarkan berita bohong yang menimpa putrinya Aisyah ra., istri Rasulullah SAW.

Akhirnya, derajat tertinggi pada diri seorang muslim itu adalah Muhsinin (orang-orang baik) yang karakternya disebutkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Tentunya, karena Muhsinin berlaku ihsan (baik) di hadapan Allah, manusia dan penghuni alam semesta. Akhlak mulia yang tumbuh dari lubuk hati yang dalam hasil tempaan ibadah yang khusu’ dan pendidikan adab yang unggul (QS. Ali Imran[3]:134).

Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam yakni melahirkan orang-orang baik (the good man) yakni mereka yang mengenal Allah dan Rasul-Nya, mencinta ilmu dan ulama dan memberi dampak positif yang luas bagi kehidupan umat manusia. Allahu a’lam bish-shawab.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement