REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT adalah satu-satunya Zat Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia menyuruh umat manusia untuk banyak-banyak bersyukur, jangan kufur nikmat yang mana justru dapat mendatangkan murka-Nya.
Dalam hidup ini, seseorang kadang diberikan kelapangan rezeki. Sebaliknya, terkadang rezeki dirasakan sempit, sehingga orang yang lemah hatinya kemudian berkeluh-kesah.
Padahal, pintu-pintu rezeki amat luas dan beragam. Berikut ini adalah penjelasan Alquran tentang rezeki.
Rezeki yang telah dijamin
Dalilnya adalah Alquran surah Hud ayat keenam. Artinya, "Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." Sebagai contoh, seorang anak yatim piatu akan tetap hidup sampai besar, padahal orang tuanya telah tiada. Allah membuatnya bertemu dengan pihak panti asuhan atau keluarga lain yang bersedia mengurusnya.
Rezeki hasil usaha
Dalilnya adalah surah an-Najm ayat ke-39. Terjemahannya, "Dan bahwasannya seorang manusia tiada memeroleh selain apa yang telah diusahakannya." Misalnya, bangsa-bangsa yang maju di dunia hari ini karena keuletan pemerintah dan rakyatnya dalam berusaha. Bandingkan dengan bangsa-bangsa yang miskin karena pemerintah dan rakyatnya yang kurang berinisiatif, padahal tanahnya subur.
Rezeki karena bersyukur
Alquran surah Ibrahim ayat tujuh menjelaskan hal itu. Artinya, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Misalnya, suatu negeri yang menerapkan syariat Islam secara utuh karena pemimpin dan rakyatnya bersyukur atas nikmat Allah. Selanjutnya, negeri itu menemukan ladang energi gas baru dengan kapasitas yang banyak.




