REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Pakar psikologi dan medis menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait adanya 'penurunan perilaku' signifikan yang ditunjukkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kekhawatiran ini menyusul serangkaian ancaman eksplosif yang dilontarkan presiden dari Partai Republik tersebut melalui media sosial terhadap Iran.
Dr John Gartner, mantan profesor di Universitas Johns Hopkins, menyatakan, Trump telah menunjukkan tanda-tanda "demensia frontotemporal" sejak 2019. Dalam sebuah wawancara pada Senin (6/4/2026), Gartner memperingatkan, penurunan kondisi tersebut kini berakselerasi sangat cepat.
"Hal yang paling mengkhawatirkan bagi dunia adalah bahwa penderita demensia frontotemporal kehilangan seluruh penilaian, hambatan diri, dan kemampuan untuk mengendalikan perilaku mereka. Mereka menjadi agresif dan tidak terkendali," ujar Gartner seperti dilansir dari Al Mayadeen.
Ia menyoroti kasarnya kalimat yang diunggah Trump di platform Truth Social pada pagi di saat Hari Paskah, hari yang dihormati umat Katolik. Dalam unggahan tersebut, presiden berusia 79 tahun itu mengancam akan menyasar infrastruktur sipil di Iran.
Trump menulis: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan di Iran... Buka Selat (Hormuz) itu, atau kalian akan hidup di neraka—LIHAT SAJA! Praise be to Allah. Presiden DONALD J. TRUMP."
Gartner menekankan, demensia jenis ini merupakan masalah perilaku yang serius, bukan sekadar masalah ingatan.




