Selasa 07 Apr 2026 17:59 WIB

Semakin Eksplosif, Pakar Psikologi Menganalisis Donald Trump Alami Demensia Frontotemporal

Penurunan kondisi Donald J Trump dinilai berakselerasi sangat cepat.

Presiden AS Donald J Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada sesi gabungan Kongres di House Chamber of the US Capitol di Washington, DC, AS, 24 Februari 2026.
Foto: EPA/KENNY HOLSTON / POOL
Presiden AS Donald J Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada sesi gabungan Kongres di House Chamber of the US Capitol di Washington, DC, AS, 24 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Pakar psikologi dan medis menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait adanya 'penurunan perilaku' signifikan yang ditunjukkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kekhawatiran ini menyusul serangkaian ancaman eksplosif yang dilontarkan presiden dari Partai Republik tersebut melalui media sosial terhadap Iran.

Dr John Gartner, mantan profesor di Universitas Johns Hopkins, menyatakan, Trump telah menunjukkan tanda-tanda "demensia frontotemporal" sejak 2019. Dalam sebuah wawancara pada Senin (6/4/2026), Gartner memperingatkan, penurunan kondisi tersebut kini berakselerasi sangat cepat.

Baca Juga

"Hal yang paling mengkhawatirkan bagi dunia adalah bahwa penderita demensia frontotemporal kehilangan seluruh penilaian, hambatan diri, dan kemampuan untuk mengendalikan perilaku mereka. Mereka menjadi agresif dan tidak terkendali," ujar Gartner seperti dilansir dari Al Mayadeen.

Ia menyoroti kasarnya kalimat yang diunggah Trump di platform Truth Social pada pagi di saat Hari Paskah, hari yang dihormati umat Katolik. Dalam unggahan tersebut, presiden berusia 79 tahun itu mengancam akan menyasar infrastruktur sipil di Iran.

Trump menulis: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan di Iran... Buka Selat (Hormuz) itu, atau kalian akan hidup di neraka—LIHAT SAJA! Praise be to Allah. Presiden DONALD J. TRUMP."

Gartner menekankan, demensia jenis ini merupakan masalah perilaku yang serius, bukan sekadar masalah ingatan.

photo
Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026. - (EPA/JEON HEON-KYUN)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement