REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikhlas berarti tulus hati. Seorang Mukmin yang melakukan amal secara ikhlas tidak akan mengharapkan apa-apa selain ridha dari Tuhannya.
Dahulu, terdapat seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Keikhlasannya dalam menerima apa-apa yang ditetapkan padanya membuat Rasulullah SAW memujinya langsung.
Sahabat yang dimaksud ialah Amru bin Taghlib. Hingga akhir hayatnya, lelaki kelahiran Basrah, Irak, ini terus setia membersamai perjuangan syiar Islam.
Sejarah mencatat dirinya sebagai seorang sosok yang menunjukkan keikhlasan atas amal yang diperbuatnya. Dalam hatinya, Amru bin Taghlib dipenuhi rasa kecukupan dan hanya berharap balasan kebaikan dari Allah.
Beberapa hikmah tentang Amru bin Taghlib dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW berikut, seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Fathul Bari. Hadis serupa juga bisa ditemukan dalam riwayat Abu Daud, seperti dicatat dalam Baitul Afkar ad-Daulilah atau hadits riwayat Nasai dalam Makabatu al-Ma'arif Riyadh.
Dalam hadis ini, Rasullulah SAW menjelaskan tentang keutamaan yang dimiliki Amru bin Taghlib.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW membagi-bagikan harta rampasan perang kepada para sahabat. Namun, ternyata tidak semua sahabat memperoleh bagian. Di antara mereka yang tidak menerima ghanimah itu adalah Amru bin Taghlab.
Beberapa orang yang tidak memperoleh harta rampasan perang itu menggerutu. Bahkan, ada pula yang sampai hati mencela sikap Rasulullah SAW. Sebab, mereka merasa beliau tidak adil dalam membagikan harta rampasan kepada sebagian Muslimin.




