REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kitab suci Alquran merupakan kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Sejak beliau diangkat menjadi utusan Allah saat berusia 40 tahun, ayat-ayat Alquran turun kepadanya. Itu hingga periode 23 tahun masa kenabian Rasulullah SAW.
Alquran yang hadir di hadapan kaum Muslimin kini adalah utuh dalam satu mushaf. Namun, pada masa Rasulullah SAW, Kitabullah ini turun secara berangsur-angsur. Barulah pada masa khulafaur rasyidin, tepatnya di era khalifah Utsman bin Affan, pembukuan Alquran selesai dilakukan.
Maka muncul pertanyaan, mengapa Alquran tidak diturunkan secara sekaligus kepada Rasulullah SAW? Mengapa ayat-ayat suci kalamullah disampaikan kepada sang nabi secara bertahap?
Dilansir dari laman Pimpinan Pusat Muhammadiyah, setidaknya ada tujuh alasan untuk merespons pertanyaan semisal itu. Berikut ini penjelasan masing-masing alasan tersebut.
Merespons situasi tertentu
Pada faktanya, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menyebarkan syiar Islam kerap menghadapi pelbagai tantangan dan ujian. Ketika masih berada di Makkah, misalnya, umat Islam mengalami tentangan yang begitu dahsyat dari pihak penguasa Quraisy yang musyrik. Kemudian, sesudah berhijrah pun, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan militer.
Untuk merespons tiap situasi itu, Nabi SAW memerlukan bimbingan Illahi. Maka, ada berbagai ayat Alquran yang latar atau sebab turunnya (asbabun nuzul) berkaitan dengan soal-soal tertentu yang sedang dihadapi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin pada masanya.




