Rabu 25 Mar 2026 16:15 WIB

Hidup dan Matinya Abu Jahal, Si Penentang Rasulullah

Abu Jahal secara ironis digelari Bapak Bijaksana oleh musyrikin Quraisy.

ILUSTRASI Abu Jahal.
Foto: dok wikipedia
ILUSTRASI Abu Jahal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Betapa meruginya mereka yang hidup satu zaman dan daerah dengan Nabi Muhammad SAW, tetapi justru memusuhi agama Islam. Hal itulah yang terjadi pada diri Abu Jahal.

Rasulullah SAW selalu menjadi target kebencian tokoh Quraisy itu. Saat sedang sujud, Rasulullah SAW dilempari kotoran oleh Abu Jahal dan komplotannya.

Baca Juga

Setelah putrinya, Fatimah, menyingkirkan benda najis itu dari kepalanya, beliau berdoa, “Ya Allah, kepada Engkaulah aku menyerahkan Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, Uqbah bin Abi Mua’ith, Umayyah bin Khalaf, dan Amarah bin Walid.”

Semua orang yang disebut dalam doa itu akhirnya menemui ajal di Perang Badar. Pertempuran itu terjadi sesudah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.

Cerita ihwal matinya Abu Jahal dapat disimak dari riwayat salah seorang sahabat Nabi SAW, Abdurrahman bin Auf.

Seperti dirangkum dalam Ringkasan Shahih Muslim karya M Nashiruddin al-Albani, waktu itu Abdurrahman sedang berhenti di tengah barisan pasukan Muslimin. Tiba-tiba, dia dihampiri seorang pemuda dari kalangan Anshar (penduduk asli Madinah). Namanya, Mu’adz bin Afra.

“Wahai paman, apakah paman tahu Abu Jahal?” tanya pemuda usia 16 tahun itu.

“Ya. Tetapi, ada keperluan apa kamu dengannya?”

“Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah, Zat Yang menguasai diriku. Kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas Mu’adz.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement