Selasa 10 Mar 2026 06:59 WIB

Trump Ingin Akhiri Perang, Pakar Militer: AS Telah Gagal dalam Perang Iran

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Ribuan warga berkumpul saat pemakaman massal untuk korban serangan sekolah perempuan di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Sebanyak 165 siswi dan guru meninggal akibat serangan udara Israel-AS terhadap sekolah tersebut pada 28 Februari 2026.
Foto: IRANIAN FOREIGN PRESS DEPARTMENT
Ribuan warga berkumpul saat pemakaman massal untuk korban serangan sekolah perempuan di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Sebanyak 165 siswi dan guru meninggal akibat serangan udara Israel-AS terhadap sekolah tersebut pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berlanjut pada Senin (10/3/2026) kemarin.

Agresi ini dibalas oleh Teheran dengan membom jantung Israel, sehari setelah pengumuman penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara itu menggantikan ayahnya.

Baca Juga

Menurut laporan informasi yang disusun oleh Salam Khader untuk Aljazeera, dikutip Selasa (10/3/2026), serangan Israel dan Amerika Serikat itu menargetkan pusat komando di Isfahan dan Shiraz serta di sabuk barat negara itu, tepatnya di Kermanshah dan Tabriz.

Di ibu kota Teheran, Israel melancarkan serangan di dekat Bandara Mehrabad yang menurutnya menampung beberapa pesawat tempur dan digunakan untuk meluncurkan serangan.

Pusat koordinasi operasi antara tentara dan Garda Revolusi di selatan juga menjadi sasaran. Israel juga mengumumkan telah menyerang markas Korps Quds di timur Teheran dan kompleks angkatan udara di Isfahan.

Sebaliknya, Garda Revolusi mengumumkan penghancuran pangkalan pengendali satelit yang diandalkan Tel Aviv untuk mengarahkan rudalnya dan memantau serangan Iran yang ditujukan kepadanya.

Dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang hampir berakhir, dapat dikatakan bahwa eskalasi ini merupakan persiapan untuk meja perundingan.

Pernyataan ini dismpaikan pakar militer Brigjen Elias Hanna, yang berpendapat bahwa pencapaian yang dibicarakan Washington dan Tel Aviv tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement