REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Saat menyambut datangnya Ramadhan, seorang Muslim biasanya ingin lebih dekat dengan Alquran dan konsisten beribadah. Meski demikian, niat baik itu sering berbenturan dengan kenyataan sehari-hari.
Pekerjaan yang menumpuk, energi yang terbagi, serta ritme hidup yang cepat membuat upaya mendalami ajaran Alquran terasa tidak sederhana. Bukan karena kurang keinginan, melainkan karena tak jarang muncul kebingungan harus mulai dari mana dan bagaimana menjaganya agar tetap berlanjut.
Di titik inilah ngaji.ai menemukan peran idealnya. Berawal sebagai aplikasi belajar mengaji, ngaji.ai kini bertransformasi menjadi pendamping ibadah harian yang selalu ada dalam genggaman. Hingga hari ini, sudah 403 ribu pengguna telah menggunakan ngaji.ai, dengan sekitar 39 ribu di antaranya berlangganan premium. Angka ini bukan semata pencapaian, melainkan cerminan kebutuhan akan cara beribadah yang terasa lebih dekat, terarah, dan relevan dengan kehidupan modern.
Chief Business Development Officer (CBDO) Vokal.ai, Fara Abdullah mengatakan, startup edukasi digital yang menaungi ngaji.ai melihat fase ini sebagai momentum penting. Ngaji.ai ingin tumbuh menjadi produk yang matang secara strategi, berdampak nyata dalam penggunaan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
"Antusiasme dari pengguna di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendamping ibadah yang kontekstual itu nyata. Banyak orang ingin hidupnya lebih selaras dengan nilai Alquran, tapi merasa kewalahan, ngaji.ai ingin hadir bukan untuk menghakimi atau membebani, melainkan menemani. Perlahan, konsisten, dan relevan dengan kehidupan hari ini,” kata Fara kepada Republika di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (11/2/2026)




