Rabu 11 Feb 2026 17:31 WIB

AWG: Pengiriman TNI ke Gaza Berpotensi Picu Gesekan dengan Pejuang Kemerdekaan

Kondisi ini kontraproduktif mengingat tujuan RI adalah melindungi rakyat Palestina.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG) M Anshorullah dalam acara konferensi pers rencana pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Kota Gaza, Palestina. Jumpa pers ini digelar di Kantin Diplomasi, kompleks kantor Kemenlu RI, Jakarta, Jumat (14/3/2025).
Foto: rep hasanul r
Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG) M Anshorullah dalam acara konferensi pers rencana pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Kota Gaza, Palestina. Jumpa pers ini digelar di Kantin Diplomasi, kompleks kantor Kemenlu RI, Jakarta, Jumat (14/3/2025).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Rencana pengiriman prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza menuai sorotan. Aqsa Working Group (AWG) mengingatkan, tanpa mandat kemanusiaan yang jelas, gencatan senjata permanen, serta persetujuan resmi dari pihak Palestina, kehadiran pasukan militer Indonesia berpotensi memicu gesekan dengan para pejuang kemerdekaan Palestina.

Ketua Presidium AWG Anshorullah mengatakan, AWG menilai rencana pengiriman TNI ke Gaza harus ditempatkan secara sangat hati-hati serta berlandaskan mandat kemanusiaan yang jelas dan hukum internasional. Tanpa adanya gencatan senjata permanen dan persetujuan resmi dari pihak Palestina, langkah tersebut berisiko mengaburkan posisi politik dan moral Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Baca Juga

"Kehadiran pasukan militer asing di wilayah konflik aktif, juga berpotensi dimanfaatkan untuk menormalisasi situasi penjajahan dan agresi yang masih berlangsung," kata Anshorullah kepada Republika, Rabu (11/2/2026).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Anshorullah menambahkan, Prajurit TNI ke Gaza mengandung potensi gesekan dengan para pejuang Palestina yang pada akhirnya dapat berujung pada konfrontasi. Kondisi ini sangat kontraproduktif, mengingat tujuan utama Indonesia adalah melindungi rakyat Palestina dan mendukung hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, bukan berhadapan dengan pihak-pihak yang mempertahankan tanah dan kedaulatannya dari penjajahan.

"Situasi semacam ini justru berisiko menempatkan Indonesia pada posisi yang keliru di mata rakyat Palestina dan komunitas internasional," ujar dia.

Oleh karena itu, Anshorullah menegaskan, AWG mengingatkan, prioritas utama Indonesia seharusnya tetap diarahkan pada upaya mendorong penghentian agresi Zionis Israel secara menyeluruh. AWG menuntut pertanggungjawaban pelaku kejahatan perang melalui mekanisme hukum internasional, serta memastikan perlindungan maksimal bagi warga sipil Gaza, Palestina.

photo
Prajurit TNI dari Yonif 400 Raider/BR yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Kontingen Garuda XXIII-L/UNIFIL berbaris usai mengikuti upacara pelepasan pasukan, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/12). Sebanyak 427 prajurit Yonif 400 Raider/BR diberangkatkan ke Lebanon dalam rangkaian penugasan pasukan perdamaian di bawah bendera PBB. ANTARA FOTO/R. Rekotomo/foc/17. - (ANTARA FOTO)

Berita Lainnya

Rekomendasi