REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad mengingatkan bahwa Muhammadiyah menghadapi tantangan besar di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Tanpa transformasi yang selaras dengan perubahan zaman, Muhammadiyah berisiko ditinggalkan Generasi Z dan Alpha.
Hal tersebut disampaikan Prof Dadang saat memberikan pengantar dalam Pengajian Rutin Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertema “Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan: Mengembangkan AI yang Berkah, Beretika, dan Berkemajuan” di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (23/1/2026) malam.
“Beliau (KH Ahmad Dahlan) sudah memperingatkan kita bahwa abad sekarang itu berbeda dengan abad yang pertama Muhammadiyah. Yang kita hadapi sekarang itu sangat luar biasa. Kalau tidak ada transformasi yang sesuai dengan zaman mungkin kita akan ditinggalkan orang,” ujar Prof Dadang.
Ia mengaku isu AI mungkin terdengar asing bagi generasinya yang lahir sebagai baby boomer. Namun, perubahan zaman yang sangat cepat membuat Muhammadiyah tidak memiliki pilihan selain ikut beradaptasi.
“Kalau dulu zaman saya itu perubahan zaman itu seratus tahun sekali, kalau sekarang itu mungkin setahun sekali terjadi perubahan yang sangat luar biasa,” ucapnya.
Guru Besar UIN Bandung ini mengungkapkan hasil riset yang menunjukkan rendahnya pengenalan generasi muda terhadap organisasi Islam.
Di Bekasi, katanya, sekitar 72 persen pelajar SMP dan SMA non-Muhammadiyah tidak mengenal Muhammadiyah, NU, Persis, maupun Al-Irsyad.




