REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menanamkan akhlak sosial yang menebar rasa aman dan kepedulian. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa kebaikan dalam Islam tercermin dari sikap memberi, menyebarkan salam, serta menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti sesama.
Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu berkata, "Seorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Apakah yang baik dalam Islam? Nabi Muhammad SAW menjawab: Memberi makan dan memberi salam kepada orang yang anda kenal atau tidak anda kenal." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Abu Musa Radhiyallahu Anhu berkata, "Sahabat bertanya: Ya Rasulullah apakah amalan yang utama dalam Islam? Nabi Muhammad SAW menjawab: Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dalam hadits ini, Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa amalan Muslim paling baik adalah mereka yang menghadirkan kebaikan, rasa aman dan persaudaraan melalui perbuatan dan tutur kata.
Dalam Islam, iman tidak hanya diukur dari keyakinan di dalam hati, tetapi juga dari sikap dan akhlak yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman dan tidak pernah membawa kecuali kebaikan.
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata Nabi Muhammad SAW bersabda, "Iman itu 60 lebih cabangnya, dan sifat malu itu satu cabang dari iman." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Imam Muslim meriwayatkan, "(Iman ada) 75 cabang, yang utama kalimat La ilaha illallah dan yang terendah menyingkirkan gangguan di jalanan, dan malu itu satu cabang dari iman."
Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata, "Nabi Muhammad SAW melihat seorang yang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi Muhammad SAW bersabda: Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu itu daripada iman." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Imran bin Husain Radhiyallahu anhu berkata, "Nabi Muhammad SAW bersabda: Malu itu tiada mendatangkan sesuatu kecuali baik." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).




