Ahad 31 Aug 2025 08:08 WIB

Marak Aksi Demonstasi, Presidium KAMI: Semua Pihak agar Introspeksi Diri

Komunikasi yang dilakukan elite politik diharap mulai bersifat dialogis.

Cendekiawan Muslim yang juga Presidium KAMI, Prof Din Syamsuddin
Foto: dok Muhammadiyah
Cendekiawan Muslim yang juga Presidium KAMI, Prof Din Syamsuddin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai aksi unjuk rasa dan bahkan penjarahan yang dilakukan massa menimbulkan kekhawatiran bersama akan kondisi Tanah Air. Menurut Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Prof Din Syamsuddin, dinamika masyarakat saat ini perlu diatasi dengan bijaksana, saksama dan cepat. Dengan begitu, potensi kemudaratan kepada bangsa dan negara dapat diantisipasi.

Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu juga meminta elite negeri, baik dari DPR maupun pemerintahan, agar lebih wawas diri. Jangan menganggap remeh dan memandang masalah secara sambil lalu (taken for granted), seolah-olah tidak ada persoalan yang dirasakan publik.

Baca Juga

"Apa yang terjadi merupakan puncak gunung es yang menggumpal di bawah permukaan. Selama ini, pemangku amanat kepemimpinan terlalu banyak bicara, tetapi kurang menjelmakan kata-katanya di ruang nyata. Ini saatnya komunikasi dengan semua pihak ditingkatkan secara dialogis," kata Din Syamsuddin dalam keterangan pers, Ahad (31/8/2025).

Ia memandang, telah terjadi krisis komunikasi khususnya di pihak legislatif. Mereka yang semestinya menjadi wakil rakyat justru terkesan mengabaikan keadaan mayoritas rakyat, yang masih terimpit berbagai beban hidup.

"Memang penampilan sebagian anggota DPR di ruang sidang yang terhormat---seperti beredar dalam video yang viral---memuakkan, tidak berempati dengan penderitaan rakyat. Mereka berjoget ria, sementara rakyat kelaparan," kata Din.

Gelombang demonstrasi di pelbagai titik kian mengemuka terutama sejak wafatnya Affan Kurniawan, seorang warga Jakarta yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek daring (ojol). Pria 21 tahun itu sedang mengantarkan paket ketika ia dilindas kendaraan taktis milik Brimob Polda Metro Jaya dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, pada Kamis lalu.

Din menilai, Kepolisian RI (Polri) pun mesti instrospeksi dan lebih bersikap presisi. Institusi penegak hukum mesti menjauhi sikap angkuh dan mentang-mentang. Polri seyogianya melakukan fungsi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

"Polri perlu melakukan reformasi diri dan bekerja untuk rakyat, bukan untuk pihak kepentingan tertentu. Tindakan anggota Polri seperti dalam pemberitaan media masaa, yang menabrak secara sadis seorang rakyat jelata (ojol) sungguh di luar perikemanusiaan yang adil dan beradab," ucap Din.

Ia juga mengajak seluruh pemuka agama-agama agar terus mengimbau umat masing-masing. Dalam kondisi seperti saat ini, masyarakat perlu diminta supaya tetap tenang dan jangan mudah terprovokasi.

photo
Sejumlah tokoh ormas-ormas Islam yang hadir dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadi Kepala Negara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/8/2025). - (tangkapan layar)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement