REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernikahan merupakan salah satu dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Setidaknya, ada tiga tujuan dari pernikahan, yakni untuk memenuhi tuntutan syahwat, menghasilkan keturunan, dan menggapai ketenangan lahir-batin karena berteduh pada pasangannya dalam menjalani hidup.
Namun, pernikahan dapat menjadi terlarang atau bahkan dosa. Misalnya, nikah secara muhallil.
Muhallil adalah sebutan bagi orang yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga oleh suami sebelumnya dengan niat bukan untuk membina rumah tangga. Niatnya hanya untuk menceraikan si perempuan itu setelah menggaulinya agar si suami yang pertama bisa menikahinya kembali.
Seperti dilansir dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online, Muslimah yang telah ditalak tiga (ba’in kubra) tidak boleh dirujuk oleh suami yang mencerainya, kecuali setelah dinikah oleh laki-laki lain. Hal itu berdasarkan pada firman Allah, yang artinya, “Kemudian jika si suami menceraikannya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga ia menikah dengan laki-laki lain” (QS al-Baqarah [2]: 230).
“Laki-laki lain” tersebut kemudian disebut dengan muhallil. Jadi, muhallil adalah laki-laki yang menikahi perempuan yang telah ditalak tiga dengan tujuan menghalalkan (tahlil) suami pertama untuk menikah kembali dengan perempuan tersebut.
Pernikahan muhallil yang bertujuan untuk membangun kehidupan suami-istri yang wajar dan langgeng tentunya tidak ada masalah. Namun, pernikahan muhallil yang singkat, sementara, atau bahkan disyaratkan harus bercerai setelah si perempuan dicampuri, inilah yang dipermasahkan. Sebab, hal demikian itu masuk ke dalam kecaman Nabi Muhammad SAW.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW suatu kali ditanya perihal muhallil. Maka, beliau menjawab, “Tidak, kecuali pernikahan atas dasar suka sama suka, bukan pernikahan tipuan, dan tidak pula (pernikahan untuk) memperolok-olok kitab Allah, hingga ia (si suami kedua) merasakan nikmatnya berhubungan badan.”