Jumat 04 Apr 2025 22:58 WIB

Israel Sengaja Bom Sekolah Tempat Para Pengungsi di Gaza

Pesawat tempur Israel menembakkan tiga rudal berat ke sekolah.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Seorang gadis muda Palestina yang terluka akibat serangan udara Israel di sekolah Dar al-Arqam, dibawa untuk dirawat di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, pada Kamis, 3 April 2025.
Foto: AP Photo/Jehad Alshrafi
Seorang gadis muda Palestina yang terluka akibat serangan udara Israel di sekolah Dar al-Arqam, dibawa untuk dirawat di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, pada Kamis, 3 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA -- Salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan udara pada Kamis (3/4/2025). Serangan udara Israel sengaja menargetkan sekolah-sekolah yang menjadi tempat penampungan warga sipil yang mengungsi di Gaza, Palestina.

Israel dengan brutal melepaskan tembakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil Palestina.

Baca Juga

Diberitakan Days of Palestine, Jumat (4/4/2025), serangan Israel menghantam lingkungan Al-Tuffah di timur Kota Gaza, akibatnya puluhan orang wafat dan menyebabkan ratusan orang lainnya terluka.

Eskalasi terbaru terjadi saat pengeboman Sekolah Fahd Al-Sabah pada Kamis (3/4/2025) malam, membunuh sedikitnya empat orang dan melukai lebih banyak lagi. Sekolah yang menampung ratusan pengungsi Palestina ini menjadi fasilitas pendidikan kedua yang diserang dalam beberapa jam oleh Israel pelaku genosida di Gaza.

Sumber medis mengkonfirmasi bahwa jenazah keempat korban dibawa ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di tengah-tengah meningkatnya jumlah korban.

Sebelumnya pada hari yang sama, serangan yang jauh lebih mematikan menargetkan Sekolah Dar Al-Arqam, yang mengakibatkan wafatnya 29 orang Palestina, termasuk 18 anak-anak, wanita dan warga sipil lanjut usia. Lebih dari 100 orang lainnya terluka, sementara banyak yang masih terjebak di bawah reruntuhan.

Kantor Media Pemerintah di Gaza mengkonfirmasi bahwa jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah, karena para petugas tanggap darurat kesulitan menjangkau para korban akibat lumpuhnya sektor kesehatan.

Tim pertahanan sipil menggambarkan situasi di Gaza sebagai “kegilaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Tim penyelamat melaporkan bahwa jenazah anak-anak berserakan di reruntuhan sekolah yang dibom Israel, tubuh mereka tercabik-cabik oleh serangan udara Israel.

“Kami menyaksikan kehancuran total,” kata seorang pejabat pertahanan sipil. 

“Tim kami kekurangan sumber daya untuk memulihkan yang terluka. Puluhan orang masih terkubur di bawah reruntuhan, dan kami tidak bisa menjangkau mereka,” ujarnya.

Rekaman yang menyayat hati setelah pembantaian di Sekolah Dar Al-Arqam membanjiri media sosial, menunjukkan tubuh anak-anak yang tak bernyawa dan tangisan putus asa para penyintas.

Menurut sumber-sumber lokal, pesawat tempur Israel menembakkan tiga rudal berat langsung ke gedung utama sekolah, yang dipenuhi oleh keluarga-keluarga yang mengungsi dan mencari perlindungan dari bombardir yang tak henti-hentinya.

Setelah serangan tersebut, lonjakan korban membanjiri Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di pusat kota Gaza. Fasilitas yang sudah beroperasi melebihi kapasitas itu, berjuang untuk menampung warga sipil yang terluka.

Para petugas medis memperingatkan bahwa persediaan obat-obatan sangat minim dan serangan udara yang terus berlanjut dapat menyebabkan kehancuran total pada layanan kesehatan di kota tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir saja, 100 orang wafat, tiga di antaranya ditemukan di reruntuhan bangunan, sementara 138 orang lainnya mengalami luka-luka.

Sejak 18 Maret 2025, jumlah korban wafat telah meningkat menjadi 1.163 orang, dengan 2.735 orang terluka. Total jumlah korban genosida Israel sejak 7 Oktober 2023 kini telah mencapai 50.523 jiwa warga Palestina dan menyebabkan 114.776 orang terluka.

Para pejabat lebih lanjut mencatat bahwa banyak korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, sementara petugas tanggap darurat tidak dapat menjangkau mereka karena pengeboman yang sedang berlangsung dan kekurangan peralatan penyelamatan.

Seiring dengan terjadinya bencana kemanusiaan ini, kecaman global terhadap taktik Israel di Gaza terus meningkat. Namun, tanpa adanya gencatan senjata yang terlihat, penduduk Gaza tetap terjebak dalam siklus pertumpahan darah dan kehancuran yang tak kunjung usai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement