REPUBLIKA.CO.ID,BEIRUT -- Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon mengatakan bahwa Israel pelaku genosida dan penjajah melancarkan tiga serangan udara pada Kamis (3/4/2025) waktu Subuh. Israel secara langsung menargetkan pusat tanggap darurat yang baru saja didirikan di kota Naqoura, yang terletak di Lebanon Selatan.
Media Lebanon Al Mayadeen melaporkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan kehancuran total pada fasilitas tersebut dan kerusakan parah pada kendaraan tanggap darurat, termasuk dua ambulans dan truk pemadam kebakaran. Tidak ada korban luka yang dilaporkan di antara para paramedis dan petugas tanggap darurat yang berada di lokasi kejadian.
Dilaporkan laman Palestine Chronicle, Jumat (4/4/2025), dalam sebuah pernyataan resmi, Otoritas Kesehatan Islam Lebanon mengutuk serangan tersebut sebagai tindakan agresi lain dalam pelanggaran Israel yang sedang berlangsung terhadap Lebanon.
Mereka menuduh Israel dengan sengaja menargetkan layanan darurat dalam upaya untuk menghalangi upaya kemanusiaan dan mengganggu pekerjaan tenaga medis yang beroperasi di zona konflik.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa serangan-serangan semacam itu merupakan bagian dari pola yang lebih luas dari serangan sistematis terhadap infrastruktur sipil, pusat-pusat medis, dan tim penyelamat, yang semuanya dilakukan tanpa adanya dampak hukum atau etika.
Eskalasi serangan Israel tidak hanya terjadi di wilayah selatan. Dalam beberapa hari terakhir, penjajah Israel telah mengintensifkan serangannya di berbagai wilayah Lebanon, termasuk di ibu kota. Pada Selasa, serangan udara Israel menghantam sebuah gedung bertingkat di pinggiran selatan Beirut.
Menurut sumber, serangan tersebut dilakukan tanpa peringatan sebelumnya dan didasarkan pada informasi intelijen yang diberikan oleh badan keamanan internal Shin Bet Israel, Al Mayadeen melaporkan.
Sejak 27 November 2024, Israel telah melakukan ratusan pelanggaran gencatan senjata terhadap Lebanon, secara teratur melanggar wilayah udara Lebanon dan melakukan serangan yang mengancam kehidupan sipil dan infrastruktur nasional.
Frekuensi dan intensitas serangan-serangan ini telah menuai kecaman luas, dengan para pejabat Lebanon memperingatkan risiko eskalasi yang lebih luas.
Sementara itu, koresponden Al Mayadeen di Lebanon selatan melaporkan bahwa pasukan penjajah Israel juga menargetkan sebuah kendaraan di kota Bint Jbeil. Meskipun tidak ada korban luka yang tercatat, serangan tersebut menambah daftar serangan udara Israel yang terus bertambah yang telah menempatkan warga sipil dan layanan penting dalam bahaya.