REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Buya Hamka bernama lengkap Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah dalam Tafsir Al-Azhar menuliskan kisahnya sendiri dalam masa tahanan di pemerintahan Presiden Soekarno. Kala itu, seorang polisi hendak menawarkan bantuan untuk Buya Hamka lewat perantara dukun, namun Buya Hamka menolaknya dan menjelaskan tentang tauhid kepada polisi tersebut.
Dikisahkan, suatu ketika penulis Tafsir Al-Azhar ditahan polisi karena difitnah orang, merasalah diri Buya Hamka selalu sepi sunyi, dipencilkan dari keluarga berbulan-bulan. Maka salah seorang polisi yang menjaga Buya Hamka merasa kasihan karena belum tentu kapan Buya Hamka akan dikeluarkan dari tahanan.
Polisi itu menyatakan bahwa dia bersedia menolong Buya Hamka. Dia akan pergi menemui seseorang dukun yang sangat mahir dan mujarrab, yang telah banyak menolong orang yang sengsara.
"Maka saya fikirkan: Apakah kekurangan daku daripada dukun itu? Aku tetap mengerjakan sembahyang lima waktu. Dalam sembahyang aku berdoa, di luar sembahyang pun aku berdoa," tulis Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar.
"Alhamdulillah aku mengerjakan juga sembahyang Nawafil, sembahyang-sembahyang yang sunnah, sampai Shalatul-lail (Tahajjud), sebelum ditahan dan sesudah dalam tahanan. Hatiku pun rasanya lebih dekat kepada Allah di saat-saat seperti ini."
"Mengapa aku akan meminta tolong kepada seorang dukun, untuk mengobatkan agar aku terlepas dari bala bencana ini, padahal barangkali lebih banyak aku bertekun menghadap Tuhan, daripada dukun itu sendiri. Sebanyak itu aku mengerjakan shalat."
"Yah, aku mengakui mungkin banyak yang tidak khusyu, tetapi kalau aku mengerjakan sembahyang yang wajib 5 x 365 dalam setahun, agaknya ada juga yang khusyu, dan Tuhan lebih tahu bahwa aku mengakui kelemahan diriku."
"Lantaran itu tidaklah aku meminta tolong kepada orang lain, melainkan langsung kepada Allah, disertai keyakinan tawakkal, menyerah bulat dan ridha. Sebab di manapun aku ditahan dan berapa lamapun, hanya satu yang aku takutkan, yaitu jangan ingatanku lepas dari Allah."
"Maka terpikirlah olehku, kalau kiranya tempat dukun itu memohon adalah Allah juga, sedang tempat aku memohon tidak lain melainkan Allah Yang Satu itu juga, mengapa kepada si dukun aku mesti meminta tolong menyampaikan permohonanku agar aku dilepaskan dari cobaan pahit ini, padahal dia berdoa dan akupun berdoa?"
"Bahkan bukan dukun itu saja, anak-anak dan istriku jauh lebih khusyu mendoakan daku daripada dukun itu. Siang dan malam, petang dan pagi mereka berdoa agar aku lekas keluar dengan selamat."
"Sudah terang bahwa derajat dukun itu sama saja dengan daku di sisi Tuhan, yaitu sama-sama makhluk-Nya. Dukun itu tidak berkuasa menolak mudharat dan mendatangkan manfaat."
"Apakah aku telah putus asa berdoa dengan usahaku sendiri, lalu aku minta tolong kepada orang lain?"