REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sungguh tidak mudah berpuasa, dan menjalankan sunnah Ramadhan di tengah agresi militer Israel. Bayangkan, negara zionis itu tak menghormati kesucian Bulan Alquran. Mereka membombardir di saat warga sedang asyik berdekatan dengan Allah pada dini hari.
Militer Israel juga tak mempedulikan kebahagiaan Muslim menyambut kemenangan Idul Fitri (lebaran). Mereka tetap saja memuntahkan peluru, melontarkan bom bom penumpah darah sekadar memenuhi ambisi ekstremis dalam tubuh pemerintahan Israel yang menghendaki aneksasi Gaza dan Tepi Barat.
Penduduk Jalur Gaza mengalami kondisi yang sangat sulit menjelang Idul Fitri, terutama dengan pemboman Israel yang terus berlanjut dan kurangnya prospek gencatan senjata, meskipun ada upaya terus-menerus untuk mencapai kesepakatan sementara selama hari raya tersebut.
Penduduk Jalur Gaza sangat kecewa dengan perang yang kembali terjadi dan ketidakmampuan para mediator (hingga laporan ini disiapkan) untuk mencapai kesepakatan yang mengarah pada gencatan senjata. Hal ini memperburuk kondisi sulit yang mereka alami selama bulan Ramadan, dan kondisi yang akan mereka hadapi jika perang berlanjut hingga hari raya Idul Fitri.
Ramzi Salah, warga kamp pengungsi Al-Shati berusia 39 tahun di sebelah barat Kota Gaza, mengatakan ia berharap dapat menghabiskan Idul Fitri kali ini jauh dari pemboman Israel yang telah melanda semua wilayah dan membuat warga ketakutan. Ia mencontohkan, ini merupakan Idulfitri yang ketiga kalinya berturut-turut, dan Idulfitri yang kedua di mana warga kehilangan kebahagiaannya.
Salah mengatakan kepada Asharq Al-Awsat, “Seluruh hidup kami telah berubah menjadi neraka.” Tidak ada istirahat, tidak ada kedamaian, bahkan tidak ada kegembiraan di bulan Ramadan atau Idul Fitri,” katanya, sambil bertanya-tanya apa yang harus disalahkan anak-anak karena tidak mendapatkan kegembiraan ini, dan ketidakmampuan keluarga mereka untuk membelikan mereka pakaian atau hadiah.
Ia menambahkan dalam bahasa sehari-hari yang sederhana: “Kebanyakan orang di sini menganggur dan tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan makanan, jadi bagaimana mereka bisa membeli pakaian atau hadiah untuk anak-anak mereka? Sejak awal perang, kami telah hidup dalam keadaan yang luar biasa, tetapi anak-anak mencari apa pun yang dapat membuat mereka bahagia, dan itu tidak tersedia.”
Adham Abu Suleiman, warga lingkungan Nasr, mengatakan, kegembiraan warga pada hari raya Idulfitri tak akan pernah lengkap, mengingat masih banyaknya korban jiwa dan gempuran Israel yang tak kunjung henti. Ia mencatat bahwa semua penduduk berharap gencatan senjata akan tetap ada dan perang tidak akan terjadi lagi dalam bentuk apa pun, tetapi semua harapan itu pupus.
Ia menambahkan, "Bagaimana kita bisa bersukacita jika setiap keluarga telah kehilangan orang yang dicintai, entah itu manusia atau batu, seperti tempat berlindung?" Ia mencatat bahwa hari libur dan acara-acara khusus tidak meringankan luka-luka ini, tetapi mengalaminya jauh dari suara-suara bom memberikan penduduk rasa kehidupan yang lebih baik.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook