Kamis 27 Feb 2025 16:50 WIB

Siasat Tersembunyi Israel di Balik Serangan Terus-menerus ke Suriah

Israel terus melakukan serangan di wilayah Suriah

Tentara Israel di atas tank di sepanjang Jalur Alpha yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel dari Suriah, di kota Majdal Shams, Senin, 9 Desember 2024.
Foto: AP Photo/Matias Delacroix
Tentara Israel di atas tank di sepanjang Jalur Alpha yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel dari Suriah, di kota Majdal Shams, Senin, 9 Desember 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Mengingat serangan Israel yang terus menerus terhadap wilayah Suriah sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad, rentetan pernyataan permusuhan dari pemerintahan baru Suriah dan ancaman eksplisit untuk melakukan intervensi di Suriah selatan, muncul pertanyaan mengenai motif dan tujuan Tel Aviv dalam eskalasi terbaru ini.

Pada 23 Feburari 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan peringatan yang mirip dengan deklarasi perang kepada pemerintahan baru di Damaskus, dengan mengatakan, "Kami tidak akan mengizinkan pasukan rezim Suriah yang baru untuk bergerak ke selatan Damaskus." Dia juga menuntut agar wilayah selatan Suriah benar-benar bersih dari pasukan tersebut.

Baca Juga

Netanyahu menekankan bahwa Israel tidak akan mentoleransi ancaman apapun terhadap komunitas Druze di wilayah tersebut, dalam sebuah langkah yang mencerminkan niat untuk mencampuri urusan dalam negeri Suriah.

Hal ini terjadi di tengah-tengah laporan yang mengungkapkan bahwa Israel sedang berusaha untuk mempermainkan keragaman sosial Suriah untuk melanggengkan semacam pemisahan yang melayani kepentingannya.

Pernyataan-pernyataan ini bertepatan dengan serangkaian serangan dan target militer yang dilancarkan oleh Israel di pedesaan Damaskus dan Suriah selatan, di saat situasi regional dan internasional bergerak ke arah penataan kembali Suriah setelah penggulingan rezim sebelumnya.

Dalam laporan ini, kami akan membahas konteks lokal dan regional dari perilaku permusuhan Israel terhadap pemerintahan di Damaskus, motif dari perilaku ini dan tujuan Tel Aviv di Suriah.

Eskalasi militer

Menyusul pernyataan Netanyahu, Israel melancarkan serangan pada Selasa malam, 25 Februari, ke lokasi-lokasi militer di pedesaan Damaskus, Daraa dan Quneitra, serta melakukan serangan darat ke kota-kota dan desa-desa di perbatasan administratif antara kedua provinsi tersebut.

BACA JUGA: Masya Allah, Anak Kecil Ini Jawab Tes Alquran Syekh Senior Al Azhar Mesir dengan Cerdas

Dalam serangan-serangan yang menurut Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, dalam sebuah pernyataan adalah bagian dari kebijakan baru yang telah ditetapkan untuk mendemiliterisasi Suriah bagian selatan, dan pesannya sudah jelas: "Kami tidak akan membiarkan Suriah selatan menjadi Lebanon selatan," demikian dikutip dari Anadolu Agency.

Menyusul ancaman Netanyahu, warga Suriah di sebagian besar provinsi turun ke jalan untuk menolak ancaman tersebut. Daraa, Damaskus, Suwayda, Homs, Tartus, dan Aleppo menjadi saksi berbagai demonstrasi untuk mengecam serangan Israel.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement