Selasa 19 Mar 2024 14:26 WIB

Dakwah Muhammadiyah Harus Kreatif dan Inovatif Agar tidak Terdisrupsi

Sekarang budaya manusia adalah budaya digital.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Dakwah/ilustrasi
Dakwah/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu'ti menyampaikan, kultur dakwah Muhammadiyah perlu berubah seiring dengan perkembangan zaman. Dia mengatakan, Muhammadiyah bisa terdisrupsi jika tidak kreatif dan inovatif dalam dakwah.

"Kalau dakwah ini kan seperti orang beriklan dengan durasi misalnya 30 detik. Maka dalam durasi ini maka kita menampilkan diri semenarik mungkin dan pilihannya terserah orang lain," tuturnya dalam agenda Pengkajian Ramadhan Muhammadiyah di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Senin (18/3/2024).

Baca Juga

Muhammadiyah, kata Mu'ti, harus mampu melakukan itu sehingga dakwah menjadi semakin inovatif. "Jika tidak, kita akan terdisrupsi karena tidak melakukan inovasi," lanjutnya.

Menurut Mu'ti, dakwah yang dilakukan di era sekarang ini bisa dengan mengubah sesuatu yang serius menjadi cair. Misalnya dalam dakwah kepada generasi muda dan generasi Z, tidak harus melulu dengan dalil. Dia mencontohkan bagaimana menjelaskan soal tauhid.

Penjelasan tauhid di media sosial, menurut dia, bisa dirangkai secara singkat dan padat tetapi mengena ke anak-anak muda. "Misalnya sampaikan 'kalau bertauhid jangan sombong dong. Kalau bertauhid, jangan diskriminatif, atau jangan merusak alam. Meski tanpa ayat, pesannya masuk. Ini saya kira menjadi substansialisasi pesan tauhid," ujarnya.

Karena itu, Mu'ti mengatakan, penting untuk mengubah mindset ini, lalu mengubah kultur dalam hal dakwah. Apa yang dimaksud dengan dakwah kultural, tidak selalu berkaitan dengan seni.

"Budaya manusia itu berubah, dan sekarang budaya manusia adalah budaya digital. Maka harus kreatif memjelaskan paham Muhammadiyah. Masalahnya kita terlalu leterlek," kata dia.

Mu'ti juga menyinggung soal pentingnya diversifikasi dai, sehingga jangan sampai satu orang dai melakukan semua hal. Artinya, seorang dai perlu memiliki spesialisasi tertentu sesuai audiens yang menjadi sasaran dakwahnya. "Dai kita harus ada diversiifikasi. Jangan satu orang lakukan semuanya," katanya.

Dia juga mengingatkan, Allah SWT mengutus rasul-Nya sesuai budaya umatnya dan kultur serta karakter masyarakat, sebagaimana diabadikan dalam Alquran yaitu Surat Ibrahim ayat 4. "Maka ketika Allah mengutus rasul-Nya, itu dari kalangan mereka," tuturnya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement